Home Berita Internasional Rahasia Hewan Laut Bertahan dari Kepunahan Massal 252 Juta Tahun Lalu

Rahasia Hewan Laut Bertahan dari Kepunahan Massal 252 Juta Tahun Lalu

Sumbawanews.com,- Sebuah studi dari Stanford mengungkap bahwa hewan laut yang selamat dari kepunahan massal 252 juta tahun lalu memiliki metabolisme yang mampu beradaptasi dengan suhu air yang meningkat dan kadar oksigen yang menurun. Peristiwa Permian-Triassic, atau “Kematian Besar,” memusnahkan 96% spesies laut dan 70% hewan darat, tetapi tidak semua kelompok hewan terdampak sama. Spesies seperti brakiopoda dan bunga laut yang lambat dan bergantung pada lingkungan dingin kaya oksigen hampir punah, sementara moluska, kerang, siput, bintang laut, dan ikan yang lebih aktif dan memiliki kebutuhan oksigen tinggi justru bertahan dan mendominasi lautan hingga kini.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal *Proceedings of the National Academy of Sciences* pada 6 Juli 2026 menunjukkan bahwa perbedaan utama antara yang hidup dan yang mati terletak pada kemampuan fisiologis menghadapi pemanasan dan deoksigenasi. Tim ilmuwan mengukur kebutuhan oksigen berbagai spesies laut, baik dari masa Paleozoikum maupun modern, di berbagai suhu air. Hasilnya, hewan kuno seperti brakiopoda tidak mampu menyesuaikan metabolisme mereka saat suhu naik, sehingga kebutuhan oksigen mereka melonjak lebih cepat daripada yang bisa dipenuhi lingkungan. Sementara itu, hewan modern yang aktif memiliki struktur tubuh—seperti insang dan otot yang efisien—yang memungkinkan mereka bertahan bahkan dalam kondisi ekstrem.

Peneliti menekankan bahwa kondisi laut sebelum kepunahan massal sangat mirip dengan kondisi saat ini: dingin, kaya oksigen, dan stabil. Namun, pelepasan karbon dioksida dan metana dalam jumlah besar akibat letusan gunung berapi raksasa di masa lalu memicu pemanasan global ekstrem. Kini, emisi manusia dari bahan bakar fosil mempercepat pemanasan laut dengan kecepatan 10 hingga 100 kali lebih cepat. “Kita sedang menuju tingkat pemanasan yang setara dengan periode kuno itu,” kata profesor Erik Sperling dari Stanford. “Namun, kita masih punya kesempatan untuk mengubah jalannya.”

Temuan ini juga menegaskan bahwa pengasaman laut, meski berkontribusi, bukan faktor utama penyebab kepunahan massal. Fokus utama tetap pada pemanasan dan penurunan oksigen. Studi ini menjadi peringatan keras: jika tren saat ini berlanjut, ekosistem laut modern bisa mengalami selektivitas kepunahan yang sama—di mana spesies yang tidak mampu beradaptasi akan hilang, sementara yang lebih tangguh akan mengambil alih.

Previous articleTimnas Indonesia Siap Bertemu Kamboja di Laga Pembuka Piala AFF 2026
Next articleWarga Bogor Memadati Stadion Pakansari Menanti Laga Timnas Indonesia vs Kamboja