Oleh : Alimuddin , Pegiat lingkungana Lingkar Tambang dan Oner KULIFARM
Sumbawa Barat, sumbawanews.com – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas kawasan lingkar tambang di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, ada sekelompok orang yang setiap hari memilih jalan yang tak banyak dilirik. Mereka bukan pekerja tambang, bukan pula pengusaha besar. Dengan fasilitas yang serba sederhana, mereka justru mengabdikan diri mengolah sesuatu yang kerap dianggap tidak lagi bernilai (sampah).
Di bawah naungan Komunitas Kuli Farm, perjuangan itu dimulai dari hal paling mendasar, yaitu mendorong masyarakat mengolah sampah dari sumbernya. Bagi mereka, penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya mengangkut dan membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Perubahan harus dimulai sejak sampah dipilah dari rumah, dari hotel, dari pasar, hingga dari tempat-tempat usaha.
Setiap pagi, tim Kuli Farm bergerak menjemput sampah yang telah dipilah oleh para mitra. Sampah berasal dari rumah tangga, Kirana Hotel, pelaku usaha MBG Benete, hingga para pedagang buah di Kecamatan Maluk. Semua telah dipisahkan menjadi dua kategori: organik dan anorganik.
Perjalanan sampah itu kemudian berakhir di sebuah lokasi pengolahan yang jauh dari kesan modern. Tidak ada mesin canggih ataupun bangunan megah. Hanya peralatan sederhana, ember-ember pengolahan, serta semangat yang terus menyala. Di tempat inilah proses penyortiran kembali dilakukan secara lebih rinci sebelum setiap jenis sampah diproses sesuai metodenya.
Sampah organik diolah menggunakan metode Black Soldier Fly (BSF) dan pengomposan. Sisa makanan, sayuran, dan limbah organik menjadi santapan larva maggot yang mampu mengurai sampah dalam waktu singkat. Dari proses itu lahir maggot yang kaya protein sebagai pakan alternatif bagi ayam, bebek, maupun ternak lainnya.
Tidak berhenti sampai di situ. Sisa budidaya maggot atau kasgot kembali dimanfaatkan menjadi kompos organik yang menyuburkan berbagai tanaman sayuran. Dari sampah lahir pakan ternak, lalu menghasilkan pupuk yang kembali menghidupkan tanah. Sebuah siklus sederhana yang menunjukkan bahwa alam sebenarnya tidak mengenal istilah limbah, selama manusia mau mengelolanya dengan bijak.
Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik, gelas kemasan, kardus, dan berbagai material bernilai ekonomi dipilah dengan teliti. Setiap kilogram yang terkumpul ditimbang dan dicatat sebagai tabungan nasabah Bank Sampah. Melalui sistem ini, masyarakat tidak hanya berkontribusi menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang sebelumnya dianggap tidak berharga.
Di balik semua capaian itu, ada kenyataan yang jarang terlihat. Para pegiat lingkungan ini bekerja dengan fasilitas yang sangat terbatas. Peralatan pengolahan masih sederhana, sarana operasional belum memadai, dan dukungan infrastruktur belum sebanding dengan besarnya persoalan sampah yang mereka tangani. Namun, keterbatasan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti.
Setiap hari, sekitar 150 kilogram sampah organik berhasil mereka olah, atau setara dengan 4,5 ton setiap bulan yang berhasil diselamatkan agar tidak berakhir di TPA. Pada saat yang sama, sekitar 100 kilogram sampah anorganik atau hampir 3 ton setiap bulan berhasil dikumpulkan untuk didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.
Angka-angka itu mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya tersimpan kerja keras, konsistensi, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Bagi Alimuddin dan para pegiat lingkungan di wilayah lingkar tambang Kecamatan Maluk, mengolah sampah bukan sekadar urusan kebersihan. Ini adalah upaya membangun budaya baru: budaya memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali. Sebuah gerakan yang menghadirkan manfaat bagi lingkungan, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan melalui pakan alternatif, serta menghasilkan pupuk organik yang mengembalikan kesuburan tanah.
Di tengah berbagai keterbatasan, Kuli Farm membuktikan bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan fasilitas yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai dan keberanian untuk tetap bertahan.
Karena pada akhirnya, masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh tangan-tangan sederhana yang setiap hari memilih mengubah sampah menjadi harapan.















