Sumbawanews.com,- Pada 17 Juli 2006, gempa berkekuatan M7,7 yang mengguncang pantai selatan Jawa memicu tsunami setinggi 4–8 meter di Pangandaran, menewaskan 668 orang dan menghancurkan ribuan rumah. Gelombang besar itu menyapu 250 kilometer garis pantai dari Pangandaran hingga Yogyakarta, menjadi bencana terbesar kedua di Indonesia setelah tsunami Aceh 2004. Dua tahun pasca-tragedi Aceh, peristiwa ini menjadi titik balik percepatan pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS), yang akhirnya diresmikan pada 2008. Kini, BMKG mampu menyebarkan peringatan dini dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa terjadi, berkat jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pasang surut, dan sistem komputasi canggih.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup. Edukasi berkelanjutan, simulasi rutin, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama membangun ketangguhan masyarakat pesisir. Ia menyampaikan hal itu dalam webinar peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran, yang digelar pada 17 Juli 2026, sebagai pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus dipupuk agar sejarah tidak berulang.















