Sumbawanews.com,- Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat menewaskan sedikitnya 25 orang, sementara di Eropa lebih dari 1.300 jiwa meninggal sejak pertengahan Juni 2026. Di AS, 22 korban jiwa berasal dari Negara Bagian New Jersey, dengan peningkatan angka kematian dari 19 menjadi 22 orang pada 4 Juli 2026, menurut pejabat kesehatan setempat. Satu kematian dilaporkan di Illinois dan dua lainnya di Mississippi. Suhu mencapai rekor 38,8 derajat Celsius di Washington, DC, pada perayaan Hari Kemerdekaan AS, melewati rekor tertinggi yang bertahan lebih dari seratus tahun. Di New York, suhu mendekati 38 derajat Celsius menyebabkan aspal di sejumlah jalan meleleh, sementara pemadaman listrik melanda 840.000 rumah tangga. Sejumlah kota di Pesisir Timur membatalkan atau menunda perayaan kemerdekaan demi keselamatan warga. Di Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia menyebut cuaca panas sebagai “pembunuh senyap” yang memicu lonjakan kematian, terutama di Prancis yang mencatat 1.000 kematian berlebih sejak 28 Juni. Republik Ceko mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah resmi, mencapai 41,1 derajat Celsius di Doksany. Lebih dari 191 juta orang di Eropa terdampak gelombang panas ini, dengan Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia menjadi wilayah paling parah.















