Sumbawanews.com,- Institut Teknologi Bandung secara resmi membuka Museum ITB di lantai tiga dan empat Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) pada Jumat, 3 Juli 2026. Didanai sebesar Rp19 miliar dari donatur alumni, filantropi, perusahaan swasta, dan pribadi, museum ini merupakan wujud dari mimpi para alumni yang digagas selama delapan tahun. Didesain sebagai ruang edukasi sekaligus rekreasi, museum menampilkan empat zona utama: akar sejarah ITB, riset dan pendidikan, kehidupan kampus antar zaman, serta inspirasi masa depan.
Zona pertama mengisahkan awal mula berdirinya ITB pada 1920, dengan dokumen visual peresmian kampus, peta awal, hingga gedung ikonik Aula Barat dan Timur. Salah satu daya tariknya adalah buku catatan mahasiswa yang mencatat nama Ir. Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia. Data tersebut telah didigitalisasi dan dapat diakses pengunjung melalui layar sentuh. Zona kedua memamerkan artefak teknologi masa lalu, alat eksperimen, prototipe, serta jejak proses riset dari observasi geologi hingga uji coba di laboratorium, termasuk kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran.
Zona ketiga menggambarkan dinamika kehidupan kampus dari masa ke masa, sementara zona terakhir memperlihatkan visi masa depan teknologi dan sains. Museum ini juga dilengkapi teater 360° Dome yang menayangkan film teknosains, termasuk kisah fondasi cakar ayam dan penemuan kodok langka di Kalimantan, dengan rencana pengembangan menjadi teater lima dimensi yang menyajikan getaran dan efek fisik, seperti saat menonton film tsunami.
Di atap gedung, pengunjung dapat melihat pesawat PZL-104 Gelatik, hasil produksi bersama Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio dan PZL Warszawa-Okecie, Polandia, sejak 1963, yang kini menjadi alat praktikum mahasiswa Teknik Mesin dan Dirgantara. Rencananya, koleksi akan diperluas dengan penambahan pesawat jet tempur Mikoyan-Gurevich MiG-21 dari Uni Soviet. Tiket masuk ditetapkan Rp50 ribu untuk umum, dengan diskon khusus bagi sivitas akademika, mahasiswa, dan pelajar.
Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menegaskan museum ini bukan sekadar penyimpan benda sejarah, tetapi ruang refleksi, dialog, dan inspirasi. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai pendirian museum ini sebagai langkah penting dalam memperkuat etalase budaya dan peradaban. Ia meminta Museum ITB segera didaftarkan ke pemerintah untuk diklasifikasikan sesuai standar nasional, dengan penekanan pada kurasi, narasi, tata cahaya, dan desain pameran. Fadli juga mendorong kampus-kampus bersejarah lain, seperti Universitas Indonesia, untuk mengikuti jejak ITB. Museum ini akan membuka ruang pameran temporer setiap enam bulan, dimulai dengan inisiatif Program Studi Teknik Kimia, serta rencana kolaborasi dengan Observatorium Bosscha.















