Home Serba Serbi Tekno Rentetan Gempa Dahsyat Mengguncang Cincin Api Pasifik dalam Sepekan

Rentetan Gempa Dahsyat Mengguncang Cincin Api Pasifik dalam Sepekan

Sumbawanews.com,- Pada sepekan terakhir, dunia menyaksikan rangkaian gempa bumi kuat yang memicu kekacauan di berbagai titik sepanjang Cincin Api Pasifik. Puncaknya terjadi di Venezuela, tempat gempa ganda berkekuatan M7,2 dan M7,5 menghancurkan wilayah Yumare pada 24 Juni 2026, hanya berselang 39 detik. Kedua gempa ini, yang dipicu oleh aktivitas sesar geser, menyebabkan lebih dari 2.000 orang tewas dan lebih dari 11.000 luka-luka akibat percepatan tanah yang ekstrem dan kerusakan struktural masif.

Tak jauh dari sana, Jepang diguncang dua gempa signifikan: M6,9 di Kuji pada 25 Juni dan M6,0 di Iwate pada 1 Juli. Meski energinya besar, pusat gempa yang berada lebih dalam di bawah laut membuat guncangan tidak memicu kerusakan besar maupun tsunami. Di Mindanao, Filipina, gempa M6,5 pada 26 Juni menyebabkan kepanikan warga karena getaran kuat di permukaan—meski tidak merusak infrastruktur. Gempa ini, yang tergolong intra-slab dan berpusat dalam, terjadi hanya beberapa minggu setelah gempa M7,8 pada 8 Juni yang menewaskan 81 orang dan memicu tsunami kecil hingga ke wilayah Indonesia.

Sementara itu, di Afghanistan, gempa M6,1 di Jurm pada 27 Juni mengejutkan karena dampaknya terasa hingga Kabul dan wilayah Pakistan, meski pusat gempa berada di area jarang penduduk. Gempa ini berasal dari deformasi kerak bumi yang cukup dalam, namun gelombang seismiknya menyebar jauh, menunjukkan betapa kompleksnya propagasi energi di wilayah pegunungan.

Menurut Daryono, ahli gempa dan mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, semua kejadian ini bukan kebetulan. “Peta seismisitas global menunjukkan dominasi aktivitas tektonik terkonsentrasi di Cincin Api Pasifik,” katanya. Sabuk ini, yang membentang dari Indonesia hingga pantai barat Amerika, menjadi rumah bagi 90 persen gempa bumi dunia dan 75 persen gunung api aktif, karena merupakan zona subduksi lempeng yang saling bertumbukan.

Berbeda dengan Sabuk Alpide yang membentang dari Mediterania hingga Asia Tenggara, atau Sistem Punggung Tengah Samudra yang terletak di dasar laut Atlantik, Cincin Api Pasifik tetap yang paling dinamis dan berbahaya. “Kedalaman pusat gempa dan kondisi geologi lokal menentukan dampaknya—apakah itu tsunami, kerusakan bangunan, atau hanya getaran yang menggetarkan hati,” tambah Daryono.

Ia menekankan, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, tapi keharusan. “Evakuasi mandiri ke tempat tinggi harus jadi respons pertama saat merasakan guncangan kuat—jangan menunggu peringatan resmi.” Di tengah gelombang tektonik yang tak kunjung reda, masyarakat di sepanjang Cincin Api Pasifik harus belajar hidup bersama gempa, bukan hanya menghindarinya.

Previous articleOle Romeny Hampir Resmi Pindah ke Fortuna Sittard, Klub Belanda yang Pernah Dibela Pemain Timnas
Next articleWitan dan Rayhan Antusias Sambut Kedatangan Shin Tae-yong di Persija