Sumbawanews.com,- Di dapur sederhana Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, aroma mentega dan kue kering baru matang memenuhi udara—bukan dari bahan biasa, tapi dari sesuatu yang selama ini dianggap sampah: kulit pisang.
Alex D. Santoso, mahasiswa Magister Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Politeknik Sahid Jakarta, berhasil mengubah limbah kulit pisang menjadi produk pangan bernilai tinggi: *cookies* premium. Inovasi ini lahir dari kecintaannya pada kuliner dan latar belakangnya sebagai koki, bukan sekadar proyek akademik.
Setiap hari, sentra pengolahan pisang di Solo Raya menghasilkan berton-ton kulit pisang yang biasanya dibuang atau hanya dipakai sebagai pakan ternak. Alex menelusuri sejumlah pengolah keripik pisang hingga menemukan sumber limbah melimpah di Desa Berjo. Di sana, ia memulai eksperimen: kulit pisang dikumpulkan, dicuci, dipotong kecil-kecil, lalu dijemur selama dua hari hingga kering sempurna. Setelah itu, digiling menjadi tepung halus. Dari lima kuintal limbah kulit pisang harian, dihasilkan sekitar satu kuintal tepung siap olah.
Komposisi *cookies* buatannya unik: 75 persen tepung kulit pisang dan hanya 25 persen tepung terigu. Gula pasir sengaja dihilangkan—diganti gula aren alami yang memberikan rasa manis lembut sekaligus aroma khas yang memperkaya cita rasa. “Dari berbagai percobaan, kami temukan bahwa tepung kulit pisang bisa menjadi bahan utama tanpa mengorbankan rasa. Malah, hasilnya justru lebih istimewa,” kata Alex.
Lebih dari sekadar rasa, produk ini menyimpan manfaat kesehatan. Kulit pisang kaya serat larut yang mendukung pencernaan, menjadikan *cookies* ini tidak hanya lezat, tapi juga bernutrisi.
Warga Desa Berjo menyambut inisiatif ini dengan antusias. Selama empat bulan penelitian, warga ikut terlibat dalam proses pengolahan—dari pengumpulan, pencucian, hingga pengeringan. “Kulit pisang yang biasanya dibuang kini jadi produk baru. Harapannya, bisa mengurangi sampah sekaligus menambah penghasilan,” ujar Rifal Alfandi, pemilik usaha keripik pisang Minions Winner Sumber Echo.
Produk ini masih dalam tahap uji pasar. Belum dipasarkan secara komersial, tetapi respons awal dari para penikmat kue dan wisatawan lokal dinilai sangat menjanjikan.
Desa Berjo, yang sudah dikenal sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, kini menambah satu lagi inovasi ramah lingkungan di kaki Gunung Lawu. Kue kering dari kulit pisang bukan sekadar camilan—ia menjadi simbol transformasi: dari limbah menjadi peluang, dari sampah menjadi nilai.















