Sumbawanews.com,- Rencana PSSI menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai kandang Timnas Indonesia saat menghadapi lawan kuat seperti Vietnam dan Thailand memicu reaksi tajam dari media Vietnam. Media lokal Soha menilai keputusan itu bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi cerdas yang memanfaatkan kekuatan terbesar Indonesia: dukungan suporter yang menggemparkan.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkapkan bahwa penggunaan GBK akan dipertimbangkan untuk laga-laga dengan potensi penonton besar. “Kalau melawan Vietnam, Thailand, atau tim besar lainnya, kemungkinan kita akan menggunakan stadion besar seperti GBK,” ujarnya. Ia menambahkan, untuk pertandingan dengan basis suporter tamu terbatas, PSSI akan mempertimbangkan stadion berkapasitas lebih kecil.
Pertimbangan itu, menurut Thohir, tak hanya soal memaksimalkan isi stadion, tetapi juga menjaga kualitas lapangan melalui rotasi penggunaan venue. Namun, di balik logika teknis itu, media Vietnam melihat sesuatu yang jauh lebih dalam. Soha menulis bahwa atmosfer GBK—dengan kapasitas lebih dari 70 ribu penonton yang bersorak serentak—adalah senjata psikologis yang sulit ditiru negara lain di Asia Tenggara.
Sorakan Merah Putih, tulis media itu, bukan sekadar hingar-bingar. Ia menjadi tekanan mental yang bisa menggoyahkan konsentrasi pemain tamu, sekaligus membangkitkan semangat para pemain Indonesia hingga ke titik paling ekstrem. Dengan kata lain, memainkan laga penting di GBK bukan hanya soal infrastruktur, tapi tentang memperkuat keunggulan rumah yang sudah terbukti selama bertahun-tahun.
Reaksi Vietnam ini justru mengonfirmasi efektivitas strategi PSSI. Di tengah upaya membangun tim yang kompetitif, Indonesia kini juga memperkuat aspek psikologis permainan—dengan memanfaatkan kekuatan suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari taktik timnas. Bagi Vietnam, ini bukan sekadar rencana pertandingan. Ini adalah peringatan: di Jakarta, bukan hanya lapangan yang berbahaya, tapi udaranya pun penuh ancaman.















