Sumbawanews.com,- Video Assistant Referee (VAR) kembali menjadi pusat kontroversi di Piala Dunia 2026, setelah keputusan teknis yang nyaris tak terlihat mengubah takdir tim-tim besar. Di antara lima insiden paling memicu perdebatan, yang paling menyakitkan dialami Timnas Iran.
Dalam laga terakhir Grup G melawan Mesir yang berakhir 1-1, Shoja Khalilzadeh mencetak gol di menit ke-93+2, seolah mengantarkan Iran lolos ke babak 32 besar untuk pertama kalinya. Tapi kegembiraan para pemain dan suporter sirna dalam hitungan detik. VAR mengonfirmasi bahwa Khalilzadeh berada dalam posisi offside—hanya selisih satu milimeter dari garis pertahanan lawan. Tayangan ulang yang diputar di stadion dan di layar televisi menunjukkan ujung sepatunya melampaui pemain terakhir Mesir, meski secara visual nyaris tak terdeteksi mata telanjang. Gol dianulir, dan mimpi Iran pupus.
Kontroversi ini bukan satu-satunya. Di Miami, Kolombia kehilangan kemenangan saat Davinson Sanchez menyundul bola ke gawang Portugal di menit akhir. Hakim garis langsung mengangkat bendera offside, dan VAR memperkuat keputusan itu—karena ujung sepatu Sanchez saja yang melewati garis. Kolombia pun pulang dengan hasil imbang 1-1, padahal kemenangan tampak pasti.
Sementara itu, Ghana harus menerima kekecewaan lain saat menghadapi Inggris. Pemain mereka, Mohammed Kudus, jatuh di kotak penalti setelah kontak dengan bek Inggris, namun wasit menolak memberi penalti. VAR pun tidak mengubah keputusan, meski replays menunjukkan adanya sentuhan yang cukup signifikan. Inggris bertahan dengan skor 0-0, dan Ghana gagal meraih poin penting.
Di pertandingan lain, Prancis dikejutkan oleh gol yang dianulir karena pelanggaran tangan yang tidak jelas. Wasit awalnya memberi gol kepada Kylian Mbappé, tetapi VAR memutuskan ada sentuhan tangan oleh pemain Prancis dalam proses serangan—meski tidak ada indikasi niat atau keuntungan langsung. Keputusan itu memicu kemarahan pelatih Didier Deschamps.
Terakhir, di laga antara Jepang dan Brasil, wasit menolak memberi penalti setelah Vinicius Jr. jatuh di kotak penalti setelah dijatuhkan oleh bek Jepang. Replays menunjukkan kontak jelas, tetapi VAR mempertahankan keputusan wasit karena dinilai “tidak cukup signifikan untuk mengganggu proses serangan”. Brasil akhirnya menang 2-1 lewat gol sundulan Rodrygo, tapi keputusan itu tetap menjadi bahan perdebatan panjang di media sosial dan ruang diskusi teknis FIFA.
Kelima insiden ini memperdalam kritik terhadap penerapan VAR yang terlalu kaku, terutama dalam kasus offside yang diukur hingga milimeter. Banyak pelatih dan mantan pemain menyerukan revisi pedoman, dengan mengusulkan batas minimal offside yang lebih manusiawi—bukan hanya berdasarkan pixel dan algoritma, tapi juga konteks permainan. Sementara itu, para suporter Iran masih memutar ulang tayangan gol Khalilzadeh, berharap suatu hari nanti, satu milimeter tak lagi menjadi penghancur mimpi.















