Sumbawanews.com,- Rencana perombakan skuad Manchester United di bursa transfer musim panas 2026 terganggu berat setelah gelandang bertahan Manuel Ugarte mengalami cedera serius di laga terakhir fase grup Piala Dunia 2026. Pemain asal Uruguay itu mengalami robekan ligamen lutut saat Uruguay kalah 0-1 dari Spanyol, membuatnya diprediksi absen selama berbulan-bulan dan menggagalkan rencana penjualan yang sudah matang.
MU sebelumnya berencana melepaskan Ugarte dengan target transfer senilai 30 juta euro. Pemain yang dibeli dari Paris Saint-Germain pada 2024 itu dinilai kurang memberi kontribusi signifikan di Old Trafford, sehingga klub berencana memanfaatkan penjualannya untuk memperkuat anggaran belanja. Namun, cedera yang dialaminya di kancah dunia membuat minat klub-klub Eropa meredup drastis. Para calon pembeli enggan mengambil risiko membeli pemain yang tidak bisa langsung berkontribusi.
Kondisi ini memaksa Setan Merah menunda rencana penjualan hingga musim panas 2027, sekaligus mengurangi potensi pemasukan yang seharusnya digunakan untuk mendatangkan empat hingga lima pemain baru. Meski sudah hampir mengamankan gelandang Brasil Ederson dari Atalanta dengan nilai 35 juta poundsterling, MU masih membutuhkan satu lagi gelandang bertahan untuk menyeimbangkan lini tengah. Kandidat seperti Aurelien Tchouameni, Sander Berge, dan Carlos Baleba kini menjadi pilihan yang lebih sulit diwujudkan tanpa dana tambahan dari penjualan Ugarte.
Kerugian finansial yang ditimbulkan bukan hanya dari hilangnya pendapatan transfer. MU juga harus menanggung biaya perawatan dan rehabilitasi pemain yang sebagian besar ditanggung klub, sementara nilai jual Ugarte diperkirakan anjlok hingga lebih dari 50 persen dari harga awal. Dengan kontraknya yang masih berjalan hingga 2028, klub kini terjebak dalam dilema: mempertahankan pemain yang tidak bisa bermain atau menjualnya dengan harga jauh di bawah ekspektasi.
Situasi ini menjadi pelajaran pahit bagi klub-klub besar yang mengandalkan turnamen internasional sebagai peluang monetisasi pemain. Bagi Manchester United, Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang kebanggaan nasional—tapi juga momen yang berpotensi menggerus stabilitas keuangan mereka.














