Sumbawanews.com,- Tiga tahun lalu, Justin Mathieu menjadi sorotan di dunia sepak bola Indonesia dengan memamerkan pencapaian golnya—bahkan menyematkan bendera Merah-Putih di profil Instagram-nya—sebagai upaya meyakinkan Timnas Indonesia bahwa dirinya layak dipanggil. Pemain keturunan Indonesia ini, lahir di Belanda dan pernah membela tim nasional Belanda di level U-16 hingga U-19, sempat dianggap sebagai calon naturalisasi paling menjanjikan oleh sebagian kalangan.
Mathieu, yang berposisi sebagai winger serba bisa, pernah mencatatkan 55 gol dan 36 assist dari 158 penampilan dalam karier profesionalnya di Belanda. Puncaknya terjadi saat membela Top Oss pada musim 2022/2023, di mana ia mencetak 31 gol dan 22 assist dalam dua musim, menjadikannya salah satu penyerang paling produktif di kasta kedua liga Belanda. Tidak berhenti di sana, pada 2024 ia justru menjadi top skor Liga Armenia bersama FC Noah, menambah bukti bahwa kemampuan mencetak golnya tak diragukan.
Namun, sejak itu, jejaknya seolah menguap dari radar Timnas Indonesia. Meski sempat menjadi bahan pembicaraan di media sosial dan forum komunitas pencinta sepak bola Tanah Air, ia tak pernah mendapat undangan resmi dari PSSI. Sementara itu, performanya di lapangan menurun drastis. Kini, setelah pindah ke klub kasta bawah di Belanda, Mathieu kesulitan mendapat menit bermain. Pemain berusia 30 tahun itu tak lagi tampil rutin, dan tidak ada kabar jelas mengenai minat dari klub-klub lebih tinggi.
Pola yang sama terlihat pada beberapa diaspora Eropa lain yang pernah mengincar panggilan ke timnas—semua berlomba-lomba menonjolkan statistik, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar diterima. Sementara pemain seperti Ole Romeny dan Thom Haye tetap menjadi pilihan utama Shin Tae-yong, Mathieu kini berada di pinggiran, menjadi contoh nyata betapa ambisi di depan layar tidak selalu berbanding lurus dengan keberlanjutan karier di balik layar.
Tak ada yang salah dengan keinginannya untuk memperkuat Garuda. Tapi dalam dunia sepak bola, kehadiran di peta transfer bukan hanya soal statistik, melainkan konsistensi, kesiapan mental, dan kecocokan sistem. Bagi Mathieu, mungkin masa depannya kini bukan lagi di stadion besar, melainkan di ruang latihan kecil, menunggu kesempatan yang mungkin tak akan pernah datang.















