Sumbawanews.com,- Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung langsung mengkritik keputusan federasi sepakbola setelah Timnas Korea Selatan gagal melaju ke 32 besar Piala Dunia 2026. Dalam tekanan publik yang kian membesar, Hong Myung-bo mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan pelatih kepala pada Senin, 29 Juni 2026.
Dalam pernyataan resminya, Hong — legenda sepakbola Korea yang pernah memimpin tim sebagai kapten hingga mencapai semifinal Piala Dunia 2002 — menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada seluruh pendukung tim nasional. “Saya tidak pernah mencari pembenaran. Tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya harus saya jalani hingga akhir. Hari ini, saya memutuskan untuk mengakhiri tugas ini,” ujar Hong, seperti dikutip dari ESPN.
Kegagalan Korea Selatan lolos ke putaran final turnamen yang berlangsung di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat itu menjadi yang terburuk dalam sejarah keikutsertaan mereka sejak 1986. Tim Taeguk Warriors tumbang di babak play-off kualifikasi setelah kalah agregat dari lawan tangguh, mencatatkan rekor buruk dalam performa bertahan dan ketiadaan kreativitas di lini tengah.
Kritik paling keras datang dari Presiden Lee Jae-myung. Dalam pidato publik yang disiarkan langsung, presiden berusia 62 tahun itu menyebut kegagalan ini bukan sekadar kekalahan olahraga, tapi bukti sistemik kegagalan manajemen. “Saya tidak hanya kecewa, tetapi bingung. Jika loyalitas dan kepentingan kelompok diutamakan daripada kompetensi, maka hasilnya sudah bisa ditebak,” tegas Lee, yang pernah menjabat ketua kehormatan klub profesional sebelum masuk politik.
Kritik tersebut langsung meruntuhkan dukungan terhadap Hong, meski ia pernah dianggap sebagai simbol integritas dan disiplin. Federasi Sepakbola Korea Selatan (KFA) segera mengumumkan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur pelatihan, rekrutmen pemain, dan sistem pengembangan bakat jangka panjang.
Hong Myung-bo, yang menjabat sejak 2023, adalah pelatih pertama yang gagal membawa Korea Selatan ke putaran final Piala Dunia sejak 1982. Ia mengaku tidak menolak tanggung jawab atas kegagalan ini, meskipun sejumlah pemain kunci seperti Lee Kang-in dan Hwang Hee-chan sempat menunjukkan potensi di kualifikasi.
Kini, KFA berada di persimpangan jalan: apakah akan mempertahankan filosofi lama yang mengandalkan figur-figur berpengalaman, atau membuka pintu lebar-lebar bagi pelatih muda dengan pendekatan inovatif. Sementara itu, Hong Myung-bo kembali ke kehidupan pribadi, meninggalkan jejak seorang pahlawan yang gagal mempertahankan kemuliaan masa lalu.















