Sumbawanews.com,- Stephen Eustaquio mencetak sejarah bagi sepak bola Kanada ketika mencetak gol penentu kemenangan 1-0 atas Afrika Selatan di babak 32 besar Piala Dunia 2026, Senin (29/6/2026) dini hari WIB di Los Angeles Stadium, Inglewood. Gol yang lahir di menit ke-92 itu bukan hanya memastikan Kanada lolos ke babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah tim putra, tetapi juga menjadi persembahan penuh makna bagi kedua orang tuanya yang telah tiada.
Pertandingan yang berlangsung sengit dan penuh ketegangan hampir berakhir tanpa gol, hingga Eustaquio, gelandang asal Kanada yang sedang dipinjamkan dari FC Porto ke Los Angeles FC, menerima umpan terobosan di kotak penalti. Dengan ketenangan luar biasa, ia mengontrol bola sebelum melepaskan tembakan keras ke sudut gawang, memecah kebuntuan dan memicu ledakan kegembiraan di seluruh penjuru stadion.
Selepas peluit panjang berbunyi, Eustaquio terjatuh ke lutut, air mata mengalir deras di pipinya. Ia menutup wajah dengan tangan, seolah tak mampu menahan beban emosi yang selama bertahun-tahun ia tahan. Dalam wawancara pasca-laga, ia mengungkapkan bahwa setiap langkahnya di lapangan adalah untuk keluarganya — terutama ibunya, Esmeralda, yang meninggal akibat kanker otak pada 2023, dan ayahnya, Armando, yang pergi setelah serangan jantung pada 2024.
“Semua ini untuk mereka. Untuk ibu dan ayahku, untuk kekasihku, untuk putriku, untuk saudaraku, untuk teman-teman di rumah,” ujarnya, suara tercekat. “Mereka selalu bersamaku, bahkan di tempat yang tak bisa kulihat.”
Pelatih Kanada, Jesse Marsch, tak kuasa menahan haru saat menanggapi persembahan Eustaquio. “Tidak ada pemain yang lebih pantas daripada dia untuk mencetak gol seperti ini,” kata Marsch. “Saya yakin, di suatu tempat, kedua orang tuanya sedang tersenyum, melihat putra mereka menjadi pahlawan bagi seluruh bangsa.”
Kemenangan ini menjadi tonggak sejarah bagi Kanada, yang sebelumnya belum pernah lolos ke babak 16 besar Piala Dunia putra. Dengan kemenangan ini, tim asuhan Marsch melaju menghadapi pemenang laga Belanda melawan Jepang, sementara Afrika Selatan harus pulang dengan hati hancur meski sudah tampil heroik sepanjang pertandingan.
Di tribun, ribuan suporter Kanada berdiri, berteriak, dan menangis. Di rumah, keluarga Eustaquio di Kanada menatap layar, tangan saling berpegangan, menangis bersama. Di sebuah kota kecil di negara bagian Alberta, sebuah foto kecil berbingkai emas — wajah dua orang tua yang tersenyum hangat — diletakkan di depan televisi, seolah mereka benar-benar hadir.
Gol Eustaquio bukan sekadar angka di papan skor. Ia adalah doa yang terjawab, kenangan yang dihidupkan kembali, dan bukti bahwa cinta keluarga bisa menjadi kekuatan terbesar di atas rumput hijau.















