Home Berita Olah Raga Iran Gagal Lolos Usai Gol Dianulir, Aroma Konspirasi Menguat

Iran Gagal Lolos Usai Gol Dianulir, Aroma Konspirasi Menguat

Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026, Seattle — Harapan Iran untuk melangkah otomatis ke babak 32 besar runtuh dalam detik-detik terakhir saat gol kemenangan Shoja Khalilzadeh dianulir wasit Szymon Marciniak pada laga terakhir Grup G melawan Mesir, Sabtu (27/6/2026). Skor 1-1 yang didapat tim Melli membuat mereka gagal langsung lolos, dan harus bergantung pada peringkat ketiga terbaik—nasib yang kini tergantung pada hasil laga lain.

Gol yang diciptakan Khalilzadeh pada menit ke-93+2 awalnya memicu sorak-sorai ribuan suporter Iran di Lumen Field. Namun, setelah rekomendasi VAR, wasit asal Polandia itu membatalkan gol tersebut dengan alasan offside. Tayangan ulang menunjukkan bahwa satu-satunya pemain bertahan Mesir yang berada di belakang Khalilzadeh adalah penjaga gawang yang sudah keluar jauh dari gawang—sehingga secara teknis, hanya ada satu lawan di antara penyerang Iran dan garis gawang, bukan dua seperti syarat Law 11 IFAB.

Keputusan itu langsung memicu kemarahan di kubu Iran. Kapten tim Mehdi Taremi menyebut perjalanan timnya sepanjang turnamen dipenuhi hambatan luar biasa: dari masalah visa, pemindahan pusat latihan akibat ketegangan politik dengan Amerika Serikat, hingga janji-janji FIFA yang tak terpenuhi. “Kami berjuang melawan segalanya di sini. Saya tidak tahu apakah mereka memang ingin kami tersingkir, tapi dari sudut pandang kami, itulah yang terasa,” ujar striker Olympiacos itu.

Pelatih Amir Ghalenoei turut menyoroti ketidakadilan yang dialami timnya. Menurutnya, berbagai kendala nonteknis—mulai dari akomodasi hingga dukungan logistik—telah mengganggu persiapan optimal tim, dan layak menjadi perhatian global sepak bola.

Kontroversi ini juga menarik respons dari dunia sepak bola internasional. Zlatan Ibrahimović, legenda Swedia, menyatakan kebingungannya: “Ini adalah Piala Dunia. Keputusan yang menghancurkan nasib sebuah bangsa tidak bisa didasarkan pada interpretasi yang memicu perdebatan.”

Namun, mantan wasit Liga Inggris Andy Davies menilai keputusan Marciniak secara teknis sudah sesuai aturan. Ia menjelaskan bahwa meski penjaga gawang Mesir keluar jauh, aturan offside tetap mensyaratkan dua pemain lawan di belakang penyerang saat bola dilepaskan. Karena syarat itu tidak terpenuhi, pembatalan gol dianggap sah menurut protokol IFAB.

Meski demikian, tidak ada bukti konkret yang mengonfirmasi adanya konspirasi sistematis untuk menyingkirkan Iran. Tudingan itu tetap berupa dugaan yang berakar pada ketidakpercayaan terhadap institusi yang dianggap tidak adil—bukan fakta hukum.

Iran kini menunggu hasil laga antara Belgia dan Selandia Baru, serta peringkat tim peringkat ketiga lainnya. Peluang lolos masih terbuka, tapi rasa kehilangan atas gol yang dianulir, dan kegagalan memanfaatkan momen terakhir, akan terus menghantui para pemain dan suporter—bukan hanya sebagai kekalahan di lapangan, tapi sebagai kekalahan atas keadilan.

Previous articlePersija Buru Gelandang Jepang yang Tolak Tawaran Liga Korea
Next articleAfrika Selatan vs Kanada: Duel Runner-Up Pertama dalam Sejarah Piala Dunia