Sumbawanews.com,- Pada 22 Juni 1994, di stadion Rose Bowl, Pasadena, Amerika Serikat, Andres Escobar—bek tengah tim nasional Kolombia—berusaha menghalau tendangan John Harkes dari tim tuan rumah. Bola yang seharusnya dibersihkan malah memantul dari kakinya, meluncur ke gawang sendiri. Gol bunuh diri itu menjadi penentu kekalahan Kolombia 1-2 dari Amerika Serikat, sekaligus mengakhiri harapan mereka di Piala Dunia 1994.
Tak disangka, dampaknya jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan.
Selang sembilan hari setelah laga itu, pada 2 Juli 1994, Escobar ditembak enam kali di depan kelab malam El Indio, di Medellín. Para penembak, yang kemudian diidentifikasi sebagai pengawal dan sopir dua pengedar narkoba, meneriakkan “¡Gol!” setiap kali melepaskan tembakan. Pemain yang dikenal tenang, rendah hati, dan dijuluki “Sang Gentleman” itu tewas di tempat, baru berusia 27 tahun.
Pembunuhan itu bukan sekadar kekerasan biasa. Ia adalah simbol kehancuran yang terjadi ketika dunia sepak bola bertabrakan dengan kekuasaan kartel narkoba. Di Kolombia, di era 1990-an, bisnis kokain dan sepak bola tak lagi bisa dipisahkan. Atletico Nacional, klub Escobar, pernah didanai oleh Pablo Escobar sendiri—raja narkoba yang menguasai sebagian besar pasar kokain global. Uang haram mengalir ke klub, ke pemain, bahkan ke keputusan di lapangan.
Humberto Castro Muñoz, salah satu pelaku, mengaku bertindak atas perintah bos-bos narkoba yang kalah taruhan besar akibat kekalahan Kolombia. Meski motif finansial tak pernah terbukti secara hukum, pengadilan Kolombia tetap menjatuhkan hukuman 43 tahun penjara kepadanya. Tapi bagi banyak orang, hukuman itu tak sebanding dengan kehilangan seorang pria yang tak pernah menyalahkan siapa pun atas kesalahannya di lapangan.
Carlos Valderrama, rekan setim Escobar dan legenda hidup sepak bola Kolombia, mengenang momen itu sebagai luka yang tak pernah sembuh. “Kami diberi pilihan: pulang ke Kolombia atau tetap di AS,” katanya dalam wawancara. “Saya memilih bertahan. Ketika saya naik pesawat pulang, pramugari memberi tahu bahwa ada pembunuhan. Saya langsung tahu—itu Andres.”
Valderrama tak pernah diberi nama korban saat itu. Tapi namanya sudah menggema di benaknya sebelum kata-kata itu terucap.
Kisah Escobar menjadi peringatan abadi: di balik setiap gol, setiap kekalahan, ada manusia yang hidup—bukan hanya sebagai atlet, tapi sebagai individu yang rentan terhadap kegilaan dunia yang tak mengenal batas. Ia bukan korban karena golnya. Ia korban karena dunia yang menganggap sepak bola sebagai judi, dan nyawa sebagai taruhan.
Hingga kini, di Medellín, monumen kecil berdiri di dekat tempat ia tewas. Di sana, para penggemar masih datang membawa bunga, mengenang pria yang bermain dengan hati, dan mati karena kekejaman yang tak bisa dimaafkan.















