Sumbawanews.com,- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) secara resmi meluncurkan strategi nasional dan internasional untuk mewujudkan impian besar: menjadikan pencak silat sebagai cabang olahraga resmi di Olimpiade 2032. Target ini diumumkan di tengah gelaran Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026, yang berlangsung dari 25 hingga 28 Juni di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur.
Wakil Ketua Umum PB IPSI, Mohamad Hasan, menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri tradisional, melainkan identitas budaya bangsa yang siap bersaing di panggung dunia. “Kami tidak hanya berjuang untuk medali, tapi untuk pengakuan global bahwa silat adalah bagian dari warisan manusia yang layak dipertandingkan di Olimpiade,” ujarnya.
Di belakang ambisi ini, Kemenpora menyiapkan peta jalan strategis yang ambisius. Sesmenpora Gunawan Suswantoro mengungkapkan bahwa salah satu syarat utama agar pencak silat diterima oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) adalah keberadaan federasi resmi di minimal 75 negara, tersebar di lima benua, dengan target akhir mencapai 120 negara. Untuk mewujudkannya, pemerintah akan mengandalkan jaringan diplomatik melalui Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal RI di seluruh dunia. Setiap perwakilan diplomatik diminta menginisiasi pusat latihan silat, mengajak atlet lokal setempat bergabung, dan membangun komunitas silat yang berkelanjutan.
PB IPSI tidak tinggal diam. Sekjen PB IPSI, Abdul Karim Aljufri, menekankan bahwa keberhasilan tidak mungkin tercapai tanpa persaingan global yang sehat. “Jika hanya Indonesia yang kuat, silat akan dianggap eksotis, bukan olahraga kompetitif. Kami harus menciptakan juara-juara baru di Turki, Brasil, atau Afrika Selatan,” katanya. Untuk itu, PB IPSI telah mengirim puluhan pelatih bersertifikat ke luar negeri, termasuk ke negara-negara yang memiliki tradisi bela diri kuat, guna mentransfer ilmu dan membangun standar teknis yang diakui internasional.
Di dalam negeri, upaya penguatan dilakukan melalui integrasi silat ke dalam kurikulum pendidikan nasional. Langkah ini, menurut Abdul Karim, merupakan instruksi langsung dari Presiden RI untuk menyaingi popularitas bela diri asing seperti taekwondo dan karate. Rencana pembentukan badan ad-hoc pengembangan kurikulum silat di sekolah-sekolah mulai SD hingga SMA/SMK kini sedang disusun bersama Kementerian Pendidikan.
Turnamen Piala Presiden 2026 yang diikuti oleh sekitar 2.000 pesilat muda dari berbagai provinsi menjadi bukti nyata komitmen ini. Para atlet dari jenjang usia dini hingga remaja tampil dengan semangat tinggi, bukan hanya untuk meraih gelar, tapi sebagai bagian dari generasi yang dituntut untuk membawa Merah Putih ke podium Olimpiade pada 2032.
Meski tantangan masih panjang—mulai dari harmonisasi aturan internasional, standar penilaian, hingga pengakuan IOC—kedua pihak menegaskan bahwa enam tahun ke depan adalah momentum krusial. “Kami tidak bisa lagi berjuang sendiri,” ujar Abdul Karim. “Kita butuh dukungan penuh dari seluruh lini negara. Jika semua bergerak, target ini bukan mimpi. Ini adalah sejarah yang sedang kita bangun.”















