Home Berita Internasional Mesir Dukung Kesepakatan AS-Iran, Tekankan Stabilitas Kawasan Teluk

Mesir Dukung Kesepakatan AS-Iran, Tekankan Stabilitas Kawasan Teluk

Sumbawanews.com,- Pemerintah Mesir menyambut positif kesepakatan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani pada 18 Juni 2026, menilai langkah diplomatik ini sebagai pintu menuju perdamaian di kawasan yang selama ini dipenuhi ketegangan. Dalam pernyataan resmi di Jakarta, Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Yasser Hassan Farag Elshemy, menegaskan bahwa meski Kairo memahami kekhawatiran strategis Teheran, prioritas utama kebijakan luar negerinya tetap pada keamanan dan stabilitas negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

“Kami tidak menutup mata terhadap logika Iran, tetapi kami berdiri teguh bersama saudara-saudari kami di Teluk,” ujar Elshemy dalam perayaan Hari Nasional Mesir di Jakarta Selatan, Rabu, 24 Juni 2026. Ia menekankan bahwa Mesir tidak hanya menjadi saksi, tetapi aktor aktif dalam proses mediasi—membuka saluran komunikasi tidak resmi dengan Iran, sekaligus berkoordinasi erat dengan Qatar, Turki, Pakistan, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam negosiasi.

MoU yang dikenal sebagai “Memorandum Islamabad” itu berisi 14 poin inti, termasuk penghentian permanen semua operasi militer, pencabutan blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari, jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, serta rencana rekonstruksi ekonomi Iran dan pembebasan aset-aset yang dibekukan. Iran juga berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir, meski menegaskan bahwa program rudal dan kemampuan pertahanan nasionalnya tidak akan menjadi bagian dari pembahasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa semua kewajiban Teheran bersifat timbal balik—akan dilaksanakan sepenuhnya hanya jika pihak AS memenuhi janjinya. Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung selama 60 hari, dengan kemungkinan perpanjangan jika diperlukan.

Mesir, yang memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara Timur Tengah dan Afrika, menempatkan diri sebagai mediator netral yang kredibel. Dukungannya terhadap kesepakatan ini bukan sekadar simpati diplomatik, tetapi refleksi dari kepentingan nasional yang mendalam: stabilitas Teluk berarti keamanan energi, jalur perdagangan, dan kestabilan politik yang mengalir hingga ke pantai Mediterania.

Dengan latar belakang konflik yang memicu kekhawatiran global, keberanian Mesir untuk berada di garis depan diplomasi—tanpa mengorbankan aliansi tradisionalnya—menjadi bukti bahwa kawasan ini masih percaya pada solusi politik, bukan kekerasan.

Previous articleTiga Peserta SPPI Meninggal, Marinir Jelaskan Protokol Kesehatan Saat Latihan
Next articlePascal Struijk Tolak Timnas Indonesia, Malah Jadi Incaran Tottenham