Sumbawanews.com,- Jakarta, 25 Juni 2026 — Di tengah hiruk-pikuk ribuan pesilat dari seluruh penjuru Nusantara, seorang bocah berpostur mungil asal Jakarta tiba-tiba menjadi pusat perhatian di Kejuaraan Pencak Silat Piala Presiden 2026. Mikhaila, pesilat kelas IV SD dari SDN Guntur 03 Pagi, bukan sekadar tampil—ia menggemparkan arena dengan gaya bertanding yang agresif, presisi, dan penuh percaya diri, seolah tak mengenal kata “takut” meski tubuhnya tak setinggi pelindung tubuh lawannya.
Berlaga di kategori tanding usia dini, Mika—demikian ia akrab dipanggil—langsung mengambil inisiatif sejak gong pertama berbunyi. Kombinasi pukulan cepat dan tendangan akurat yang menghantam titik-titik strategis di pelindung tubuh lawan membuat lawan-lawannya kebingungan, bahkan tak sempat merespons. Dalam waktu singkat, ia mengunci kemenangan dan melaju ke babak selanjutnya, tanpa terlihat lelah atau goyah.
“Saya latihan sejak kelas dua. Setiap minggu, empat kali,” ujar Mika usai pertandingan di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur. “Saya tidak mau cedera. Saya mau juara lagi.”
Ketangguhannya bukan kebetulan. Di balik keberhasilan di atas matras, tersembunyi rutinitas latihan yang keras: tak hanya di sekolah, ia juga menambah sesi latihan ekstra di luar jam pelajaran, mengasah teknik banting dan serangan dengan disiplin tinggi. Dukungan penuh dari orang tua menjadi fondasi yang tak kalah penting.
Tak hanya Mika, rekan satu sekolahnya, Thalita, juga mencatatkan prestasi gemilang di kelas tanding C. Berbeda dengan gaya menyerang Mika, Thalita memilih strategi bertahan yang kokoh, menunggu momen tepat sebelum melepaskan tendangan tinggi yang mematikan. “Lawan saya kayak baru, jadi saya lebih banyak nunggu,” ujarnya sambil tersenyum.
Keduanya datang dengan modal kuat. Mika, yang sebelumnya menyabet juara satu di Kejuaraan Nasional PB IPSI di GOR Ciracas pada Mei lalu, kini menargetkan gelar ganda. “Targetnya juara lagi. Dan yang paling penting—tidak cedera,” tegasnya dengan mata berbinar.
Kejuaraan Piala Presiden 2026, yang berlangsung dari 25 hingga 28 Juni di TMII, diikuti sekitar 2.000 pesilat dari tingkat SD hingga SMA/SMK, dan menjadi ajang paling bergengsi di kalangan atlet silat muda nasional. Diselenggarakan oleh PB IPSI dengan dukungan media, turnamen ini bukan sekadar kompetisi, tapi laboratorium bakat masa depan pencak silat Indonesia.
Dua bocah dari Jakarta ini bukan hanya membawa pulang kemenangan—mereka membawa harapan. Di tengah dominasi atlet dari daerah-daerah dengan tradisi silat kuat, Mika dan Thalita membuktikan bahwa ukuran tubuh bukan penghalang, dan semangat yang terlatih bisa mengalahkan segala rintangan. Di atas matras, mereka adalah bukti nyata: kecil-kecil cabe rawit, tapi pedasnya menggema hingga ke puncak.















