Sumbawanews.com,- Pyongyang – Korea Utara secara resmi mengoperasikan kapal perang pertamanya yang dilengkapi senjata nuklir, sebuah lompatan strategis dalam modernisasi angkatan lautnya yang diumumkan langsung oleh Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un. Kapal perusak berbobot 5.000 ton bernama Choe Hyon, yang diresmikan di pelabuhan Nampo pada Selasa (23/6/2026), menjadi simbol ambisi Pyongyang untuk mengubah laut menjadi medan perang strategis, bukan sekadar batas pertahanan.
Dalam pidato peresmian yang disiarkan media state-run KCNA, Kim menegaskan bahwa angkatan laut kini telah bertransformasi menjadi “kekuatan militer dengan sarana strategis,” termasuk rudal balistik dan jelajah yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Kapal ini, menurut laporan resmi, akan bertugas menjaga wilayah pesisir barat Korea Utara dan menjadi bagian dari rencana lima tahun untuk memperluas kemampuan serangan preemptif.
Kapal ini bukan sekadar simbol. Sejak diperkenalkan pada April 2025, Choe Hyon telah menjalani serangkaian uji coba, termasuk peluncuran rudal jelajah berdaya ledak nuklir. Meski tidak ada verifikasi independen karena akses jurnalis asing dilarang, analis militer menilai teknologi yang digunakan kemungkinan besar didukung oleh Rusia, mengingat semakin dekatnya hubungan militer kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Tidak hanya Choe Hyon, Pyongyang juga mengumumkan bahwa kapal perusak kedua, Kang Kon, yang sempat mengalami kegagalan peluncuran dan kerusakan di Chongjin, kini telah diperbaiki dan siap bertugas. Rencana pembangunan kapal perang berbobot 10.000 ton juga disebut sedang dalam tahap pengembangan.
Langkah ini menandai pergeseran fokus strategis Kim Jong Un dari dominasi rudal balistik darat menuju kekuatan laut nuklir—sebuah upaya untuk menciptakan deterensi yang lebih kompleks dan sulit dihancurkan. Pernyataan Kim bahwa “masa lalu angkatan laut kami hanya mempertahankan laut sekitar” mengisyaratkan ambisi territorial yang lebih luas, termasuk kemungkinan penolakan permanen terhadap Northern Limit Line (NLL), garis batas laut yang disengketakan dengan Korea Selatan sejak Perang Korea.
Di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung, sementara Seoul mengamankan seorang tentara Korut yang diduga membelot, Pyongyang menegaskan bahwa denuklirisasi bukan syarat untuk dialog dengan Amerika Serikat. Dengan kapal perang nuklir pertamanya berlayar, Kim Jong Un mengirim pesan tegas: Korea Utara tidak lagi menunggu perubahan dari luar—ia sedang membangun kekuatan yang tidak bisa diabaikan.















