Sumbawanews.com,- Houston – Setelah puasa gol selama 10 pertandingan di turnamen besar, Cristiano Ronaldo akhirnya kembali menunjukkan keganasannya di atas lapangan. Dua gol yang ia cetak dalam kemenangan telak Portugal 5-0 atas Uzbekistan di matchday kedua Grup J Piala Dunia 2026 di Houston Stadium, Rabu (24/6/2026) dini hari WIB, bukan sekadar angka—melainkan sebuah deklarasi bahwa sang legenda masih punya suara di panggung tertinggi sepak bola dunia.
Gol pertama lahir di menit ke-21, setelah Ronaldo memanfaatkan umpan silang dari Bernardo Silva dengan tendangan voli akurat yang menghujam sudut gawang. Tiga menit berselang, ia kembali menjadi pahlawan—kali ini lewat tembakan bebas yang melesat di atas jangkauan kiper, mengakhiri kebuntuan panjang yang telah membuatnya menjadi sorotan kritik dan tanya besar dari para pengamat.
Kemenangan ini sekaligus membalikkan kekalahan awal Portugal dari Republik Demokratik Kongo di laga pembuka. Dengan tiga poin penuh, Timnas Portugal kini berada di posisi kedua Grup J, bersaing ketat dengan Argentina dan Austria.
Ronaldo, yang sejak Piala Dunia 2022 tak lagi mencetak gol di ajang besar—baik di turnamen Piala Dunia maupun Euro—akhirnya menutup periode suramnya. Terakhir kali ia menjebol gawang lawan di turnamen internasional adalah saat melawan Ghana di Qatar 2022. Sejak itu, empat laga di Piala Dunia 2022, tiga laga di Euro 2024, dan satu laga pembuka di Piala Dunia 2026 berlalu tanpa satu pun gol dari sang kapten.
Ironisnya, selama masa “puasa” itu, rival abadinya, Lionel Messi, justru terus menancapkan tanda tangan di papan sejarah. Messi mencetak 12 gol sejak Piala Dunia 2022, termasuk tujuh gol saat membawa Argentina meraih gelar juara dunia. Kini, dengan dua gol ini, Ronaldo memperpanjang rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia—menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di lima edisi berbeda.
Di tepi lapangan, saat kamera menangkap ekspresinya usai peluit panjang berbunyi, Ronaldo menatap lensa, tersenyum lebar, lalu mengangkat tangan dan berteriak: “I’m back, I’m back.” Ucapan itu bukan sekadar kegembiraan sesaat. Ia adalah pernyataan bahwa meski usia telah menginjak 41 tahun, mentalitas juara, disiplin, dan hasrat untuk menang tetap tak tergoyahkan.
Pelatih Portugal, Roberto Martínez, tak menyembunyikan kebanggaannya. “Ini bukan hanya tentang gol. Ini tentang keberanian untuk tetap percaya diri di tengah tekanan. Ronaldo adalah simbol ketahanan,” ujarnya usai laga.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Ronaldo masih bisa mencetak gol—tapi seberapa jauh ia bisa membawa Portugal melangkah lebih jauh di turnamen ini. Di depan mata, ada Argentina di babak 16 besar, dan di belakangnya, mungkin—sekali lagi—final yang belum pernah ia raih sejak 2016.
Sementara itu, di seluruh dunia, jutaan mata menatap layar. Bukan hanya karena ia pemain legendaris. Tapi karena ia masih bisa membuat kita percaya: bahwa dalam sepak bola, keajaiban tetap bisa terjadi—bahkan ketika waktu sudah menulis akhir cerita.















