Sumbawanews.com,- Emiliano Martínez akan menjadi sosok langka yang menginjakkan kaki di Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan tiga tim berbeda dalam kurun waktu lebih dari satu dekade. Pada 1 Agustus 2026, kiper Argentina itu akan kembali ke Jakarta, kali ini membela Aston Villa dalam laga pramusim melawan Indonesia All Stars—sebuah pertandingan yang resmi diumumkan oleh Sound Rhythm pada 22 Juni lalu.
Kunjungan ini bukan yang pertama bagi Martínez di tanah air. Pada 2013, ia pertama kali tampil di SUGBK sebagai pemain Arsenal. Saat itu, ia masuk di menit ke-68 menggantikan Lukasz Fabiański dalam laga persahabatan yang berakhir 7-0 untuk The Gunners. Meski hanya bermain singkat, jejaknya sudah tertanam di lapangan yang kini akan menjadi saksi sejarah baru.
Delapan tahun kemudian, pada 19 Juni 2023, Martínez kembali ke Jakarta—kali ini dengan warna berbeda: jersey Timnas Argentina. Ia menjadi penjaga gawang utama saat La Albiceleste mengalahkan Timnas Indonesia 3-0 dalam laga FIFA Matchday. Di tengah gemuruh penonton, ia menunjukkan kualitasnya yang tak hanya mengandalkan refleks, tapi juga kepemimpinan di belakang gawang.
Kini, dengan status sebagai kiper utama Aston Villa—juara Liga Europa 2025–2026—Martínez kembali ke SUGBK, bukan sebagai pemain tim nasional atau klub Inggris biasa, tapi sebagai simbol perjalanan global sepak bola modern. Dari Arsenal yang sedang mendominasi Premier League era Arsène Wenger, ke tim nasional Argentina yang meraih Piala Dunia 2022, hingga ke klub yang baru saja menjuarai kompetisi Eropa, ia membawa tiga babak berbeda dari kisah sepak bola internasional ke satu lapangan di Jakarta.
Laga antara Aston Villa dan Indonesia All Stars bukan sekadar pertandingan persahabatan. Ia menjadi momentum bagi generasi muda Indonesia untuk menyaksikan langsung sosok yang pernah menghentikan penalti di final Piala Dunia, yang menjadi tulang punggung tim juara Eropa, dan kini menjadi ikon yang menginspirasi ribuan anak muda di tribun SUGBK.
Dengan kehadirannya, Martínez bukan hanya membawa nama klubnya—ia membawa sejarah. Dan di tengah gema sorak penonton, Stadion Utama Gelora Bung Karno kembali menjadi panggung dunia.















