Sumbawanews.com,- Kuala Lumpur — Francisco Guterres, mantan presiden Timor Leste dan ikon perjuangan kemerdekaan negara itu, meninggal dunia pada usia 71 tahun di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Minggu, 21 Juni 2026. Ia dikenal luas dengan nama perjuangannya “Lu Olo”, dan meninggal dalam perawatan intensif, meski penyebab pasti kematiannya belum diumumkan secara resmi.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh keluarga melalui akun Facebook resmi mendiang. Guterres menjabat sebagai presiden keenam Timor Leste dari 2017 hingga 2022, setelah puluhan tahun berada di garis depan pergerakan kemerdekaan melawan pendudukan Indonesia yang berlangsung dari 1975 hingga 1999. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam proses transisi menuju negara berdaulat setelah referendum 1999 yang diawasi PBB.
Sebelum menjadi kepala negara, Guterres memimpin Partai FRETILIN selama bertahun-tahun dan memainkan peran sentral dalam penyusunan konstitusi Timor Leste. Pada 2001, ia mengepalai Majelis Konstituante yang merumuskan dasar hukum negara baru, lalu menjadi ketua pertama Parlemen Nasional setelah kemerdekaan resmi pada 2002.
Perjalanan politiknya penuh liku-liku. Ia gagal meraih kursi kepresidenan dalam beberapa pencalonan sebelum akhirnya menang pada 2017. Namun, pada pemilihan 2022, ia kalah dari Jose Ramos-Horta, rekan seperjuangan yang kini menjabat sebagai presiden.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan belasungkawa mendalam, memuji Guterres sebagai sosok yang “mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kebebasan, demokrasi, dan perdamaian rakyat Timor Leste.” FRETILIN menyebut kepergiannya sebagai “kehilangan besar” bagi gerakan nasional yang ia perjuangkan sejak muda.
Lahir di Ossu, Distrik Viqueque, pada 7 September 1954, Guterres tumbuh di bawah kolonialisme Portugis dan menyaksikan langsung kekejaman pendudukan Indonesia. Ia menjadi simbol ketahanan, bukan hanya sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai arsitek institusi demokrasi yang kini menjadi fondasi negara termuda di Asia Tenggara.
Ia ditinggalkan oleh istri, Cidalia Lopes Nobre Mouzinho Guterres, dan empat anak—tiga putra dan satu putri. Rincian pemakaman dan upacara kenegaraan di Timor Leste masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah setempat.
Dengan wafatnya Guterres, dunia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Timor Leste—seorang pejuang yang bertransformasi dari gerilyawan menjadi arsitek negara, dan tetap menjadi suara moral bagi keadilan dan persatuan hingga detik terakhir hidupnya.















