Sumbawanews.com,- Tim SAR terus menyisir perairan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, mencari Masnah, perempuan yang nekat melompat dari Kapal Motor Penumpang (KMP) Belida pada Sabtu malam, 20 Juni 2026. Hingga hari kedua pencarian, belum ada tanda-tanda keberadaannya.
Insiden terjadi saat kapal berlayar dari Pelabuhan Poto Tano menuju Kayangan, Lombok Timur. Menurut Koordinator Pos SAR Kayangan, Muhammad Darwis, kru kapal langsung melakukan manuver darurat setelah melihat korban terjun ke laut—memutar haluan dan berputar-putar di sekitar titik kejadian demi mencari jejak tubuhnya. Namun, gelombang laut yang cukup keras dan malam yang pekat menghalangi upaya penyelamatan awal.
Pada Minggu dini hari, laporan resmi diterima Kantor SAR Mataram. Secepatnya, tim gabungan dikerahkan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Pelabuhan Labuan Lombok, membentuk pola pencarian memanjang ke arah selatan. Pencarian kini diperluas hingga radius 10 mil laut, dengan bantuan alat deteksi sonar dan informasi dari nelayan setempat yang sedang beroperasi di sekitar lokasi.
Masnah, yang belum diketahui motif pastinya, dikabarkan berada sendirian di dek atas kapal saat kejadian. Tidak ada laporan konflik atau kekerasan yang terjadi sebelumnya, namun saksi mata menyebut korban tampak sangat gelisah sejak beberapa jam sebelum kapal berangkat. Petugas belum bisa memastikan apakah aksi itu bersifat impulsif, akibat tekanan emosional, atau ada faktor lain yang mendorongnya.
Kepala Kantor SAR Mataram, dalam konferensi pers singkat, menegaskan bahwa pencarian akan terus dilakukan hingga semua kemungkinan dieksplorasi. “Kami tidak akan berhenti sampai ada kepastian—baik itu temuan hidup maupun jenazah. Ini tanggung jawab kemanusiaan,” ujarnya.
Keluarga korban, yang datang dari Lombok, kini menunggu di kantor SAR dengan harapan yang rapuh. Mereka belum bisa menerima kenyataan bahwa perempuan yang dikenal ramah dan penyayang itu tiba-tiba menghilang di tengah laut yang tak bersahabat.
Pemerintah daerah dan ASDP sebagai operator kapal telah membuka koordinasi intensif dengan pihak keamanan dan kesehatan mental untuk memastikan tidak ada kegagalan sistem dalam mengidentifikasi risiko psikologis penumpang. Sementara itu, masyarakat di sekitar pelabuhan berdoa bersama, berharap keajaiban terjadi di tengah lautan yang sunyi.















