Home Berita Nasional Nahtadia, Peternak Ayam yang Ubah Hidup Keluarganya

Nahtadia, Peternak Ayam yang Ubah Hidup Keluarganya

Sumbawanews.com,- Di kawasan Cibodas, Jonggol, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun tak lagi terlihat lelah setelah seharian mengurus kandang ayam petelur. Nahtadia, yang dulu bekerja di pabrik tas, kini menjadi tulang punggung keluarga lewat usaha kecil yang tumbuh menjadi sumber penghasilan utama—dengan omzet bulanan mencapai Rp48 juta dan keuntungan bersih sekitar Rp9 juta.

Tiga tahun lalu, setelah resign dari pabrik karena tekanan kerja yang berat, ia memutuskan memulai peternakan ayam di halaman rumah. Dengan modal awal dari pinjaman Kupedes Rakyat (Kupra) BRI sebesar Rp35 juta, ia membangun kandang dan membeli seribu ekor ayam petelur. Saat itu, suaminya masih berjualan warung keliling—kopi, gorengan, dan jajanan anak sekolah—tapi kini, warung itu sudah tutup. Ternak ayam menjadi satu-satunya andalan ekonomi keluarga.

“Dulu TV kecil, sekarang sudah 43 inci,” ujar Nahtadia sambil tersenyum, sambil menunjuk televisi di ruang tamu rumahnya. Uang hasil penjualan telur tak hanya membeli barang-barang rumah tangga, tapi juga menopang pendidikan dua anaknya: satu yang akan masuk kelas dua SD, dan satu lagi yang bersiap masuk PAUD. Seragam, buku, dan perlengkapan sekolah kini tak lagi jadi beban.

Pakan menjadi pengeluaran terbesar—lebih dari Rp30 juta per bulan—tapi permintaan telur tak pernah surut. Agen dari Cileungsi, Bekasi, hingga Depok datang rutin setiap hari, mengambil dua peti telur dari kandangnya. Harga jual ke agen sekitar Rp24 ribu per kilogram, sementara pembeli eceran di lingkungan sekitar rela membayar Rp26 ribu karena kepercayaan pada kualitas dan kesegaran produk.

“Telurnya fresh, langsung dari kandang. Jaraknya juga dekat,” kata Rudi, salah satu agen langganan yang sudah membeli dari Nahtadia sejak 2024. Ia menekankan, keuntungan yang diambil tak besar—yang penting pelanggan tetap puas dan kembali.

Kesuksesan ini tak lepas dari keputusan bijak Nahtadia memilih Kupra BRI, bukan KUR. Meski memenuhi syarat usaha mikro, ia masih memiliki pinjaman modal dari bank lain, sehingga tidak memenuhi syarat KUR yang bersubsidi pemerintah. Kupra, yang mensyaratkan jaminan, justru menjadi solusi tepat. “Kami arahkan ke Kupra karena ini tetap memberi akses modal tanpa mengabaikan kondisi keuangan debitur,” jelas Oki Nurcahyadi, Kepala Unit BRI Jonggol.

Kini, Nahtadia juga mulai menabung dalam bentuk ternak: dua ekor kambing dititipkan di rumah tetangga. “Baru dua, tapi alhamdulillah sudah bisa beli,” katanya sambil menatap kandang ayam yang penuh dengan suara cicit riang.

Tak ada rencana memperluas pasar. “Stok saja belum cukup,” ujarnya. Di tengah fluktuasi harga telur dan biaya operasional yang tinggi, ia tetap optimistis—bukan karena keberuntungan, tapi karena kerja keras, ketekunan, dan kepercayaan pada usaha kecil yang dibangun dari nol. Di balik setiap butir telur yang dijual, ada kisah seorang ibu yang memilih berdiri sendiri—dan berhasil.

Previous articlePrabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Jokowi
Next articleAS dan Iran Lanjutkan Negosiasi Nuklir di Swiss
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.