Sumbawanews.com,- Pembicaraan teknis antara Amerika Serikat dan Iran resmi berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6), menyusul penandatanganan memorandum kesepahaman jarak jauh pada 17 Juni lalu. Pertemuan ini menjadi langkah krusial untuk mewujudkan kesepakatan akhir terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi oleh Washington.
Dilansir dari pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan, negosiasi tingkat teknis ini melibatkan delegasi tinggi dari kedua negara, didampingi oleh mediator dari Pakistan dan Qatar. Awalnya, pembicaraan dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6), tetapi ditunda menyusul eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, yang memperuncing ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Memorandum yang ditandatangani secara virtual itu menetapkan tenggat 60 hari bagi kedua pihak untuk merumuskan kesepakatan permanen. Di dalamnya, AS berkewajiban mencabut blokade angkatan lautnya di Teluk Persia, sementara Iran berkomitmen membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz—jalur strategis yang selama ini menjadi titik rawan konflik.
Kedua belah pihak juga sepakat bahwa semua langkah akan bersifat saling terkait dan bertahap, dengan mekanisme verifikasi independen sebagai bagian dari proses transparansi. Meski belum ada pernyataan resmi dari Washington atau Teheran mengenai hasil awal pertemuan, sumber diplomatik mengungkapkan bahwa kedua delegasi menunjukkan sikap serius dan fokus pada substansi teknis, bukan retorika politik.
Pertemuan ini menjadi salah satu upaya paling nyata dalam beberapa tahun terakhir untuk meredam ketegangan antara dua negara yang telah saling berseteru sejak keputusan AS menarik diri dari Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA). Kini, dengan kehadiran mediator regional dan tekad untuk menghindari konflik militer, dunia menanti apakah diplomasi di pegunungan Swiss ini akan menjadi titik balik—atau sekadar jeda sementara dalam perjalanan panjang ketidakpercayaan.















