Sumbawanews.com,- Polisi mengungkap kekejaman yang menggemparkan di Sumedang, Jawa Barat: seorang pria berinisial WS (32) menyiram dua bocah kakak-beradik, RFP (9) dan QSH (6), dengan air keras karena dendam atas utang sebesar Rp850 ribu yang tak kunjung dilunasi. Pelaku, yang ternyata merupakan pacar gelap ibu korban, melampiaskan kemarahannya pada anak-anak tak bersalah sebagai bentuk balas dendam terhadap keluarga yang dianggap menghinanya.
Kapolres Sumedang, AKBP Sandityo Mahardika, menjelaskan bahwa hubungan WS dengan ibu korban, KY, berlangsung selama empat bulan—sebuah ikatan romantis yang terjalin saat suami KY tengah bekerja di Bengkulu dan jarang pulang. Hubungan itu, menurut Sandityo, bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan hubungan intim yang berlangsung diam-diam. Yang lebih memilukan, WS sendiri telah memiliki istri, menjadikan perbuatannya bukan hanya kejam, tapi juga melanggar norma sosial dan moral yang paling dasar.
“Keluarga korban sudah beberapa kali ditagih, tapi tak kunjung membayar. Tersangka merasa diremehkan, lalu memilih melampiaskan kekesalan pada anak-anaknya,” ujar Sandityo, menegaskan bahwa korban sama sekali tidak terlibat dalam persoalan utang piutang itu.
Kedua bocah itu kini menjalani perawatan medis intensif akibat luka bakar kimia yang mengenai wajah dan tubuh. Aksi keji ini terjadi di rumah mereka, di tengah lingkungan yang seharusnya menjadi tempat aman. Polisi telah menetapkan WS sebagai tersangka dan mengamankan barang bukti berupa botol berisi cairan korosif yang digunakan dalam serangan itu.
Kasus ini memicu kemarahan publik. Banyak yang mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang bisa mengorbankan nyawa anak-anak kecil hanya karena masalah uang sekecil itu—padahal, di balik uang itu, ada harapan, masa depan, dan kehidupan yang seharusnya dilindungi, bukan dihancurkan.
Pihak keluarga korban, yang baru mengetahui kejadian ini setelah pemeriksaan polisi, terpukul. Sang ayah, yang sedang bekerja jauh dari rumah, kini berusaha secepatnya pulang untuk menemani anak-anaknya dalam masa pemulihan yang panjang.
Kasus ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ia adalah cermin kehancuran moral dalam hubungan manusia—di mana cinta berubah jadi dendam, utang jadi alasan pembunuhan perlahan, dan anak-anak menjadi korban tak bersalah dari kegagalan dewasa mengendalikan emosi.
Polisi berjanji akan mengejar keadilan seadil-adilnya. Tapi pertanyaan yang lebih dalam tetap menggantung: sampai kapan kita membiarkan utang, cemburu, dan keegoisan menghancurkan generasi paling rentan?















