Sumbawanews.com,- Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat dianggap dekat terwujud kini terhenti setelah pembicaraan langsung yang dijadwalkan di Swiss dibatalkan tanpa alasan resmi. Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi pembatalan pertemuan tingkat tinggi yang seharusnya dihadiri Wakil Presiden AS JD Vance, meski kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara daring pada Kamis lalu.
MoU yang disepakati secara virtual itu menjadi titik balik penting dalam hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun saling berseteru. Dokumen tersebut menetapkan tenggat 60 hari bagi AS dan Iran untuk merundingkan kesepakatan akhir terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi oleh Washington. Selain itu, AS diwajibkan mencabut blokade lautnya, sementara Iran berkomitmen memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz — jalur strategis pengiriman minyak global.
Namun, meski draf MoU telah disetujui dan ditandatangani secara digital, rencana pertemuan tatap muka di Jenewa gagal terlaksana. Sumber mengungkapkan bahwa ketidakpastian teknis dan perbedaan dalam mekanisme pelaksanaan menjadi alasan utama penundaan. JD Vance, yang seharusnya mewakili pemerintah AS, dikabarkan belum berangkat ke Swiss karena prosedur logistik dan keamanan belum sepenuhnya final.
Pembatalan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan diplomatik. Meski MoU dianggap sebagai langkah historis, kegagalan pertemuan langsung mengisyaratkan ketidakpercayaan mendalam yang masih menghantui hubungan kedua negara. Iran sebelumnya menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak akan berarti tanpa komitmen nyata dari AS, sementara Washington menekankan perlunya jaminan verifikasi yang ketat terhadap program nuklir Teheran.
Rusia, yang menyambut positif MoU tersebut, kini mengawasi perkembangan dengan cermat. Sementara itu, ancaman Presiden Donald Trump untuk kembali menyerang Iran jika kesepakatan dilanggar tetap menggantung di udara, menambah ketegangan di tengah kevakuman komunikasi langsung.
Dengan waktu 60 hari yang semakin menyempit, dunia menanti apakah diplomasi daring akan cukup untuk menggantikan dialog langsung — atau apakah krisis ini baru saja memasuki babak baru yang lebih rumit.

















