Sumbawanews.com,- Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi demonstrasi besar-besaran pada Jumat, 19 Juni 2026, di Tugu 12 Mei, lokasi simbolis yang menjadi saksi sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia. Sebanyak seribu lebih mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul sejak pagi, siap menyampaikan aspirasi mereka dalam aksi bertajuk “Seruan Turun Aksi”.
Presiden Mahasiswa Dhenni Ribowo, yang menjadi koordinator aksi, menegaskan bahwa demonstrasi ini bukan sekadar protes, melainkan panggilan moral untuk mengawal kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat. “Mahasiswa adalah garda terdepan demokrasi. Kami tidak bisa diam ketika keadilan tergadaikan,” ujarnya di sela-sela persiapan aksi.
Aksi ini dipicu oleh sejumlah isu strategis yang tengah menggerogoti kepercayaan publik: kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan pendidikan yang dianggap semakin komersial, serta dinamika politik yang dinilai mengabaikan suara rakyat kecil. Melalui spanduk dan orasi yang mengalir penuh emosi, para peserta menuntut transparansi, keadilan sosial, dan perlindungan terhadap hak-hak mahasiswa.
Unggahan resmi di akun Instagram @kepresmausakti menjadi jembatan komunikasi antara organisasi dan massa. Dalam keterangan tertulisnya, Kepresma Trisakti menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk partisipasi aktif dalam demokrasi, bukan bentuk anarkisme. “Kami bukan lawan negara, tapi penjaga konstitusi,” demikian bunyi pesan yang viral di kalangan mahasiswa se-Indonesia.
Untuk mendukung kelancaran aksi, panitia membuka donasi perjuangan yang diterima secara sukarela dari mahasiswa, alumni, dan masyarakat sipil. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan logistik, medis, dan perlindungan hukum bagi peserta aksi. “Setiap rupiah yang disumbangkan adalah bentuk solidaritas. Ini bukan hanya aksi mahasiswa, ini aksi rakyat,” kata salah satu relawan dari Fakultas Hukum.
Polisi, yang telah mengerahkan 4.576 personel gabungan di lima titik strategis di Jakarta, mengaku siap menjaga ketertiban tanpa menghalangi hak konstitusional warga negara untuk menyampaikan pendapat. Petugas terlihat berjaga di sepanjang jalur menuju Tugu Trisakti, namun tidak ada tanda-tanda intervensi berlebihan hingga siang hari.
Aksi berlangsung damai hingga pukul 14.00 WIB, dengan orasi-orasi yang menggugah dan nyanyian lagu-lagu perjuangan menggema di sekitar monumen yang menjadi simbol perlawanan generasi sebelumnya. Di akhir acara, para peserta membentuk formasi manusia menyerupai huruf “R” — singkatan dari “Reformasi” — sebelum membubarkan diri secara tertib.
Dengan aksi ini, Trisakti kembali menegaskan identitasnya sebagai “Kampus Reformasi” — bukan sekadar label historis, tapi komitmen berkelanjutan untuk menjadi suara kebenaran di tengah arus kekuasaan.

















