Sumbawanews.com,- Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusulkan gencatan senjata berskala luas yang mencakup wilayah dari Iran hingga Lebanon, sebagai upaya menenangkan ketegangan di Timur Tengah yang kian memanas. Usulan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan jaringan media internasional, di mana Trump menekankan bahwa konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok pro-Iran di kawasan itu telah mencapai titik kritis.
Menurut Trump, gencatan senjata tidak boleh hanya terbatas pada garis depan di Gaza atau perbatasan Israel-Lebanon, tetapi harus mencakup seluruh jaringan kekuatan yang dipengaruhi Teheran. “Ini bukan soal Israel atau Iran saja. Ini soal stabilitas regional. Jika kita tidak menghentikan aliran senjata, dana, dan agitasi dari Teheran ke Hezbollah di Lebanon, ke Houthi di Yaman, dan ke kelompok lain di Suriah, maka tidak ada perdamaian yang bertahan,” ujarnya.
Trump, yang pernah menjabat sebagai presiden AS dari 2017 hingga 2021, menyatakan bahwa kebijakan luar negeri sebelumnya—terutama kesepakatan nuklir 2015 yang kemudian ditariknya pada 2018—tidak pernah benar-benar menyelesaikan akar masalah. Ia menilai pendekatan militer semata hanya menunda konflik, bukan menghilangkannya. “Kita butuh kesepakatan yang mengikat, bukan pernyataan persahabatan di atas kertas,” tegasnya.
Dalam usulannya, Trump meminta negara-negara sekutu, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, untuk ikut menengahi. Ia juga menyarankan agar PBB membentuk tim pengawas independen yang diberi wewenang untuk memantau pelanggaran di seluruh wilayah, bukan hanya di titik-titik panas tertentu. “Jangan biarkan Iran bermain dua kaki. Mereka mengatakan damai, tapi mengirim rudal ke Tel Aviv dan drone ke kapal perang AS di Teluk,” katanya.
Meski tidak menyebutkan jadwal pasti, Trump menyatakan bahwa AS siap menjadi mediator, meski tanpa mengembalikan status diplomatik penuh dengan Iran. “Kita tidak perlu berteman, tapi kita harus berhenti saling membunuh,” ujarnya.
Respons internasional masih bervariasi. Israel menyambut baik inisiatif itu sebagai langkah realistis, sementara Teheran menolak mentah-mentah, menyebutnya sebagai “upaya memaksakan kehendak AS”. Hezbollah di Lebanon, yang dianggap sebagai lengan militer Iran di wilayah itu, belum memberikan pernyataan resmi.
Analisis keamanan regional menilai bahwa usulan Trump, meski terdengar ambisius, membuka ruang dialog yang selama ini tertutup. Namun, tantangan terbesar tetap pada kepercayaan—dan pada siapa yang akan menjadi penjamin kepatuhan.
















