Sumbawanews.com,- Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Teheran hanya akan mematuhi kesepakatan sementara dengan Amerika Serikat jika Washington benar-benar melaksanakan seluruh komitmennya. Pernyataan ini muncul usai kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin yang menjadi fondasi gencatan senjata sementara dan pembukaan jalur negosiasi damai selama 60 hari.
MoU yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian bukanlah kesepakatan final, melainkan langkah awal menuju perdamaian permanen. Namun, Ghalibaf, yang juga bertindak sebagai negosiator utama Iran, menekankan bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. “Jika Amerika Serikat tidak menghormati komitmennya, tidak ada alasan bagi Iran untuk menghormati komitmennya sendiri,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip media milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Inti kesepakatan itu mencakup pencabutan bertahap sanksi ekonomi AS terhadap Iran — langkah yang diharapkan membuka kembali akses Teheran ke pasar minyak global, sistem perbankan internasional, dan pemulihan ekonomi yang terpukul bertahun-tahun. Selain itu, dokumen itu juga mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz, pengawasan internasional terhadap program nuklir Iran, serta pembentukan kerangka perjanjian damai permanen yang akan dirundingkan dalam dua bulan ke depan.
Namun, ketegangan historis antara kedua negara membuat skeptisisme tetap menggantung. Meski Trump menyebut kesepakatan ini “tidak mudah”, dan para pejabat Iran menyambutnya sebagai “terobosan bersejarah”, keduanya sama-sama menegaskan bahwa implementasi MoU sepenuhnya bergantung pada kepatuhan bersama. Setiap pelanggaran, sekecil apa pun, berpotensi menggagalkan proses yang baru saja dimulai.
Dengan latar belakang konflik yang berlangsung lebih dari empat dekade, termasuk kebijakan “tekanan maksimal” AS di era sebelumnya dan pengembangan program nuklir Iran yang kontroversial, langkah ini memang menjanjikan harapan. Tapi bagi Teheran, janji-janji politik tidak lagi cukup. Hanya tindakan nyata — pencabutan sanksi, pembukaan saluran keuangan, dan penghentian ancaman militer — yang akan dianggap sebagai bukti keseriusan Washington.
Dalam suasana penuh harap sekaligus waspada, masyarakat Iran di Teheran terlihat memegang bendera nasional di jalanan, seolah mempersembahkan doa damai yang belum sepenuhnya terwujud. Sementara itu, dunia menunggu: apakah kesepakatan ini akan menjadi titik balik, atau hanya sekadar jeda sebelum badai berikutnya.















