Sumbawanews.com,- Pemerintah mempercepat proses pemulihan pasca-bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dengan fokus utama pada rehabilitasi infrastruktur kritis: jalan, jembatan, dan fasilitas pendidikan. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa meski sejumlah layanan dasar seperti kesehatan, listrik, dan distribusi bahan bakar telah pulih, tantangan terbesar kini terletak pada pemulihan jaringan transportasi dan sekolah yang rusak parah akibat banjir dan longsor.
Dalam rapat Tim Pengarah Satgas Percepatan Rehab-Rekon Pascabencana Sumatra yang dipimpin Menko PMK Pratikno, Tito menekankan bahwa infrastruktur jalan provinsi dan kabupaten masih menjadi titik lemah. Beberapa ruas yang sempat diperbaiki kembali rusak akibat hujan berkelanjutan, khususnya di Tapanuli Tengah, Agam, dan sejumlah wilayah Aceh. “Prioritas kita adalah mempermanenkan jalan dan jembatan yang belum tersentuh. Jika pemerintah daerah tidak mampu, pusat siap mengambil alih,” ujarnya.
Di sektor pendidikan, dari 4.922 sekolah yang terdampak, sebagian besar sudah kembali menggelar pembelajaran. Namun, ratusan sekolah masih harus menggunakan bangunan darurat, tenda, atau menumpang di gedung lain karena struktur aslinya hancur atau perlu direlokasi. “Ada yang belajar di tenda, ada yang menumpang di sekolah tetangga. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” kata Tito.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama pemerintah daerah kini bekerja keras mempercepat rehabilitasi fisik sekolah agar proses belajar mengajar bisa kembali normal. Sementara itu, Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa pencairan anggaran saja tidak cukup. “Kita butuh pengawasan ketat, koordinasi antar-lembaga, dan realisasi di lapangan yang cepat. Jangan sampai ada program tumpang tindih atau terlambat,” tegasnya.
Untuk mendukung upaya ini, Presiden telah menyetujui anggaran pemulihan senilai Rp100,1 triliun hingga 2028. Pada tahun 2026 saja, Rp38,9 triliun telah dialokasikan untuk membiayai pembangunan jalan, jembatan, sekolah, serta fasilitas publik lainnya di tiga provinsi terdampak. Dengan pendekatan terpadu antara pusat dan daerah, pemerintah bertekad tidak hanya membangun kembali, tetapi membangun lebih tahan bencana.















