Home Serba Serbi Tekno Kemarau Meluas, Hujan Lebat Nihil Selama Empat Hari

Kemarau Meluas, Hujan Lebat Nihil Selama Empat Hari

Sumbawanews.com,- Jakarta – Musim kemarau di Indonesia kini meluas dengan cepat, menyisakan sebagian besar wilayah tanpa potensi hujan lebat selama periode 19–22 Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, hampir sepertiga dari seluruh Zona Musim (ZOM) di Tanah Air—sebanyak 233 dari 699 ZOM—telah memasuki fase kering, dengan kondisi atmosfer yang semakin kering, terutama di wilayah selatan.

Peningkatan luas zona kemarau ini dipicu oleh intensifikasi fenomena El Nino, yang menyebabkan penurunan signifikan curah hujan di sejumlah pulau utama. Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua menjadi wilayah paling terdampak, dengan sifat hujan yang cenderung di bawah normal. Di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, periode tanpa hujan sudah mencapai 11 hingga 60 hari, masuk kategori menengah hingga sangat panjang.

Yang mengkhawatirkan, BMKG menyatakan nihilnya potensi hujan lebat atau sangat lebat pada 19–22 Juni—sebuah perubahan drastis dari periode sebelumnya yang masih mencatat sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara berada dalam peringatan dini hujan ekstrem.

“Kondisi ini tidak hanya memperdalam kekeringan meteorologis, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan, gangguan ketersediaan air bersih, dan fluktuasi suhu ekstrem—panas menyengat di siang hari, dingin menusuk di malam hingga pagi,” ujar BMKG dalam laporan resminya.

Di luar prediksi resmi, peneliti iklim dari BRIN, Erma Yulihastin, memperingatkan bahwa anomali suhu permukaan laut di ekuator timur Samudra Pasifik telah mencapai +0,9 derajat Celsius per awal pekan ini—naik dari +0,8 derajat pada pekan pertama Juni dan +0,6 derajat sebelumnya. Angka ini menunjukkan akselerasi cepat penguatan El Nino, yang menurut model prediksi BRIN, akan mencapai puncaknya pada Juli dan berdampak paling parah pada Agustus–September 2026.

“Pola penjalaran panas di lapisan bawah laut tahun ini sangat mirip dengan El Nino 1997 dan 2015—dua peristiwa iklim ekstrem yang menyebabkan kekeringan masif dan kebakaran hutan skala besar,” kata Erma. Ia menambahkan, banyak model iklim global memperkirakan anomali suhu bisa melebihi +2 derajat Celsius, yang berarti El Nino 2026 berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam tiga dekade terakhir.

Dengan tidak adanya hujan signifikan dalam empat hari ke depan, sejumlah daerah rawan kekeringan mulai mengalami tekanan serius terhadap pasokan air untuk pertanian, kebutuhan rumah tangga, dan kesehatan lingkungan. Pemerintah daerah diminta segera mengaktifkan skema tanggap darurat, sementara masyarakat diimbau mengoptimalkan pengelolaan air dan menghindari aktivitas yang memicu kebakaran lahan.

Kemarau tahun ini bukan sekadar siklus alam—ia adalah tanda bahwa perubahan iklim global kini berdampak langsung, cepat, dan tanpa kompromi pada kehidupan di Nusantara.

Previous articlePemulihan Bencana Sumatra Dipercepat, Jalan dan Sekolah Jadi Prioritas
Next articlePrabowo Panggil Pimpinan Himbara Bahas Strategi Perbankan Nasional
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.