Sumbawanews.com,- Tiga kapal tanker minyak milik Iran berhasil melintasi Selat Hormuz pada Selasa (16/6), melepaskan diri dari blokade militer Amerika Serikat yang telah berlangsung selama dua bulan. Pergerakan ini terjadi tepat sehari sebelum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS di Burgenstock, Swiss, yang diharapkan membawa langkah signifikan menuju perdamaian di kawasan.
Menurut data pelacakan kapal TankerTrackers, dua kapal super tanker VLCC milik National Iranian Tanker Company (NITC)—DIONA (IMO 9569695) dan HERO2 (IMO 9362073)—mengangkut total 3,8 juta barel minyak mentah Iran keluar dari zona blokade Angkatan Laut AS. Kapal ketiga, berjenis Suezmax, juga berhasil melewati garis batas dengan membawa 1 juta barel minyak. Ini merupakan ekspor minyak mentah pertama Iran dari wilayah tersebut sejak awal April.
Blokade yang diterapkan AS sejak Februari lalu bertujuan untuk membatasi pendapatan minyak Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi yang diperluas bersama sekutu-sekutunya, terutama Israel. Sebelumnya, Iran membalas dengan menutup sementara Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi arteri utama perdagangan minyak global.
Pergerakan kapal-kapal ini tidak terjadi secara kebetulan. Para pengamat melihatnya sebagai sinyal politik sekaligus langkah teknis menjelang perundingan tingkat tinggi di Swiss pada 19 Juni. Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua DPR sekaligus mantan komandan Garda Revolusi Islam, Mohammad Bagher Ghalibaf. Sementara itu, pihak AS belum mengonfirmasi secara resmi siapa yang akan memimpin tim negosiasi, meski Wakil Presiden JD Vance telah menyatakan kehadirannya—dan bahkan membuka kemungkinan Presiden Donald Trump sendiri akan hadir.
MoU yang akan ditandatangani mencakup tiga pilar utama: pencabutan sanksi ekonomi AS terhadap Iran, pembukaan permanen Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal komersial, dan kerangka kerja untuk mengatur masa depan program nuklir Iran. Kesepakatan ini diharapkan menjadi fondasi bagi perdamaian jangka panjang, mengakhiri siklus ketegangan yang telah memicu kekhawatiran global atas stabilitas pasokan energi dan keamanan maritim.
Dalam laporan terpisah, Iran disebut berpotensi menerima kompensasi hingga Rp5.342 triliun sebagai bagian dari kesepakatan, meski rincian teknisnya masih dalam pembahasan. Sementara itu, Israel menanggapi perkembangan ini dengan kekhawatiran, terutama setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengancam akan melanjutkan serangan ke Lebanon meski AS-Iran telah sepakat berdamai.
Dengan terbukanya kembali Selat Hormuz, dunia kini menanti apakah diplomasi akan mengalahkan konfrontasi—atau hanya menjadi jeda sementara dalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.















