Sumbawanews.com,- Ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar mendatangi kediaman Presiden Joko Widodo di Solo, Rabu (17/6/2026), untuk menyampaikan versi terkoreksi dari buku *Jokowi’s White Paper*. Kunjungan ini menjadi langkah moral dan akademik setelah sebelumnya ia menjadi tersangka dalam kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Presiden.
Ditemani penasihat hukumnya, Jahmada Girsang, dan Ketua Militan Gibran Nusantara, Andi Aswan, Rismon menegaskan bahwa revisi buku ini bukan sekadar perbaikan teknis, melainkan upaya menempatkan karya ilmiahnya dalam koridor akademik yang ketat, jauh dari nuansa politik atau emosi publik. “Ini pertanggungjawaban saya kepada dunia penelitian—bahwa karya ini tunduk pada kaidah ilmiah, bukan pada afiliasi, kebencian, atau kepentingan politik,” ujarnya di hadapan awak media.
Salah satu inti koreksi terletak pada bab kesepuluh, di mana ia memperkuat analisis citra wajah menggunakan teknologi *artface* untuk membandingkan foto Jokowi muda di dokumen ijazah dengan potret terkini. Ia juga memperluas analisis ini ke figur publik lain seperti SBY, Luhut Binsar Pandjaitan, Anies Baswedan, dan Megawati Soekarnoputri, untuk menunjukkan pola perubahan wajah seiring waktu secara ilmiah.
Rismon menekankan bahwa versi baru buku ini—yang telah melebihi 800 halaman—tidak akan diedarkan sembarangan. Ia berencana mendistribusikannya ke perpustakaan universitas di seluruh Indonesia, agar menjadi bahan kajian akademik, bukan bahan perdebatan di media sosial. “Kami tidak butuh polemik di Twitter atau TikTok. Kami butuh diskusi di ruang seminar, di jurnal ilmiah, di laboratorium teknik elektro dan informatika,” tegasnya.
Penasihat hukum Rismon, Jahmada Girsang, menyebut kunjungan ini sebagai bentuk *moral duty*—tanggung jawab etis seorang peneliti. “Ini bukan permintaan maaf, tapi pernyataan komitmen pada kebenaran ilmiah. Rismon ingin memperbaiki karyanya, bukan menariknya,” ujar Jahmada.
Kunjungan ini terjadi di tengah dinamika politik yang kian kompleks, dengan munculnya isu-isu terkait identitas dan legitimasi kepemimpinan. Namun Rismon menolak menyebut kunjungannya sebagai bentuk kompromi atau negosiasi. “Saya datang bukan untuk meminta restu, tapi untuk menyerahkan bukti—bahwa ilmu bisa menjadi jembatan, bukan senjata.”
Presiden Jokowi, yang saat ini masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7, menerima kunjungan tersebut secara pribadi. Tak ada pernyataan resmi dari Istana mengenai isi pertemuan, namun sumber terpercaya menyebut Presiden mendengarkan dengan seksama dan memberi apresiasi atas niatan Rismon untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur akademik.
Dengan langkah ini, Rismon berharap buku *Jokowi’s White Paper* versi terkoreksi bisa menjadi contoh: bahwa kritik bisa disampaikan tanpa kebencian, dan kebenaran bisa ditemukan bukan di media sosial, tapi di ruang-ruang ilmiah yang tenang dan beradab.















