Home Berita Internasional Trump Marah, Netanyahu Dianggap Gagalkan Damai AS-Iran

Trump Marah, Netanyahu Dianggap Gagalkan Damai AS-Iran

Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump meledak kemarahan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran di Swiss pada 19 Juni mendatang. Dalam sejumlah pernyataan keras, Trump tidak hanya menyalahkan Netanyahu atas ancaman gagalnya kesepakatan bersejarah itu, tetapi juga mempertanyakan legitimasi keberadaan Israel jika dirinya tidak menjabat.

MoU yang tengah disiapkan menjadi fondasi utama untuk mengakhiri konflik bersenjata antara AS dan Iran yang meletus sejak Februari lalu. Salah satu syarat krusial dari kesepakatan ini adalah penghentian total serangan Israel terhadap Lebanon—sebuah komitmen yang telah disetujui kedua belah pihak pada April. Namun, serangan berkelanjutan oleh Israel terhadap wilayah perbatasan itu, terutama yang menargetkan kelompok Hizbullah, membuat Iran mengancam akan menarik diri dari negosiasi.

Dalam pertemuan tertutup dengan staf keamanan nasional, Trump tiba-tiba melontarkan pernyataan yang mengejutkan: “Tanpa saya, tidak akan ada Israel.” Ia menegaskan bahwa tidak ada presiden AS lain yang bersedia mengambil risiko strategis sebesar yang telah ia lakukan—termasuk memaksa Iran duduk di meja perundingan melalui tekanan militer dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Saya yang menyelamatkan Israel dari kehancuran. Jika bukan saya, siapa lagi?” ujarnya kepada sejumlah wartawan di Gedung Putih.

Trump juga secara terbuka mengecam Netanyahu atas ketidakmampuannya mengendalikan operasi militer di Lebanon. “Saya punya hubungan baik dengan Bibi, tapi sekarang dia harus bertanggung jawab. Serangan terus-menerus itu tidak hanya merusak kesepakatan, tapi juga menempatkan nyawa warga sipil dalam bahaya.” Ia menekankan bahwa setiap serangan udara Israel yang menghancurkan gedung apartemen di pinggiran Beirut, yang menewaskan puluhan warga sipil, justru memperkuat narasi Iran bahwa Israel adalah agresor yang tidak menghargai hukum kemanusiaan.

Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, Trump bahkan menyarankan agar Israel menyerahkan urusan Hizbullah kepada Suriah. Ia memuji Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa sebagai pemimpin yang “tidak berpura-pura, tapi sangat efektif.” Menurut Trump, Al-Sharaa memiliki pengalaman langsung dalam memerangi Hizbullah dan mampu menangani kelompok itu tanpa menimbulkan kerusakan sipil sebesar yang dilakukan Israel. “Dia tahu cara kerjanya. Saya jujur—Suriah bisa menyelesaikan ini lebih baik daripada Israel.”

Kemarahan Trump bukan hanya soal diplomasi, tapi juga soal kemanusiaan. Ia menilai strategi militer Israel terlalu brutal dan tidak selektif. “Anda tidak bisa merobohkan gedung bertingkat hanya karena mencari satu orang. Di dalamnya ada ibu, anak-anak, guru, dokter—bukan semua orang adalah teroris.” Pernyataan itu disampaikan setelah laporan PBB mencatat lebih dari 1.200 korban sipil di Lebanon sejak serangan dimulai, termasuk ratusan anak di bawah umur.

Dengan MoU yang tinggal hitungan hari lagi, tekanan diplomatik terhadap Netanyahu semakin intens. Sumber di Pentagon mengatakan, pihak AS telah mengirim pesan rahasia ke Tel Aviv: “Hentikan serangan, atau kami akan menandatangani kesepakatan tanpa Anda.” Dalam konteks ini, Trump bukan lagi sekadar mediator—ia menjadi penentu nasib hubungan antara Israel, Iran, dan seluruh kawasan Timur Tengah.

Previous articleRonaldo dan Spirit Lumumba Bertemu di Houston
Next articleMBG adalah Janji Pemilu, Bukan Pilihan Politik
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.