Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintah Suriah, bukan Israel, lebih berpotensi menghancurkan milisi Hizbullah di Lebanon. Pernyataan kontroversial itu ia sampaikan di sela-sela KTT G7 pada Selasa (16/6), sekaligus menjadi sindiran halus terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dianggapnya terlalu keras kepala dalam mengejar misi militer.
Trump menilai, Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa — yang ia sebut sebagai “orang yang saya tempatkan di sana” — memiliki pemahaman mendalam tentang struktur dan taktik Hizbullah. “Dia bukan anak pramuka, tapi dia telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam menyatukan negaranya. Dan dia tidak menyukai Hizbullah,” ujar Trump kepada wartawan. Ia bahkan secara terbuka menyarankan agar Israel memberi ruang kepada Damaskus untuk menangani ancaman milisi yang didukung Iran itu.
Pernyataan ini mengejutkan mengingat hubungan historis AS-Israel yang erat, sekaligus kontras dengan kebijakan militer Israel selama bertahun-tahun yang berfokus pada penghancuran kapabilitas Hizbullah di Lebanon selatan. Meski serangan udara dan darat telah berulang kali dilancarkan, Israel belum mampu menghentikan kemampuan Hizbullah meluncurkan roket ke wilayahnya.
Trump menekankan bahwa pendekatan militer Israel terlalu destruktif. “Anda tidak harus merobohkan gedung apartemen setiap kali mencari seseorang. Ada banyak warga sipil di dalamnya — dan tidak semuanya anggota Hizbullah,” katanya, mengkritik operasi militer yang menimbulkan korban jiwa besar di kalangan warga sipil Lebanon.
Kritik ini muncul di tengah upaya AS dan Iran yang hampir mencapai kesepakatan dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada 19 Juni. Salah satu syarat utama bagi kelanjutan perundingan itu adalah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Namun, serangan berulang Israel ke Lebanon dinilai Trump sebagai penghambat utama proses damai.
Trump mengaku frustrasi dengan sikap Netanyahu yang, menurutnya, sengaja memperkeruh upaya diplomasi AS-Iran demi kepentingan militer jangka pendek. “Netanyahu terus mempersulit. Padahal, jika kita bisa menyelesaikan ini dengan Iran, kita bisa mengakhiri konflik selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Dalam konteks geopolitik yang semakin rumit, pernyataan Trump tidak hanya menandai pergeseran retorika, tetapi juga mengisyaratkan perubahan strategis dalam kebijakan luar negeri AS — yang kini tampak lebih mengutamakan stabilitas regional melalui diplomasi, daripada mempertahankan pendekatan militer tradisional yang selama ini menjadi andalan sekutu utamanya di Timur Tengah.















