Sumbawanews.com,- BMKG mengonfirmasi sejumlah bangunan penting di Palu, Sulawesi Tengah, mengalami kerusakan sedang akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah itu pada Selasa, 16 Juni 2026. Guncangan kuat yang berpusat di darat, 45 kilometer tenggara Palu, merusak kantor Bupati Kabupaten Sigi, Auditorium Universitas Taduluko, dan Hotel Santika di Kota Palu. Selain itu, lima rumah warga di Kabupaten Parigi Moutong juga dilaporkan mengalami kerusakan struktural.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyebut kerusakan tersebut terdeteksi hingga pukul 12.00 WIB. Gempa ini tercatat memiliki mekanisme pergerakan turun (*normal forward*), dengan episenter berada di koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur—posisi yang memperkuat dugaan bahwa getaran berasal dari aktivitas sesar lokal di daratan, bukan laut.
Tidak hanya bangunan besar, gempa ini juga memicu rangkaian gempa susulan yang terus terdeteksi. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengungkapkan setidaknya 20 gempa aftershock telah tercatat, dengan magnitudo terendah 2,9 dan tertinggi 5,1. “Masyarakat diminta tetap waspada, terutama terhadap bangunan yang sudah retak atau mengalami kerusakan,” ujar Nelly dalam konferensi pers virtual. “Gempa susulan bisa memperparah kerusakan yang sudah ada, bahkan menimbulkan bahaya tambahan.”
Hingga siang hari, belum ada laporan korban jiwa, namun petugas darurat dan tim tanggap bencana terus bergerak untuk memastikan keamanan warga dan mengevakuasi bangunan yang berpotensi runtuh. Pemerintah daerah bersiap mengaktifkan posko darurat, sementara BMKG terus memantau aktivitas seismik secara real-time.
Gempa ini mengingatkan kembali trauma besar Palu pada 2018, ketika gempa M7,4 dan tsunami menyebabkan ribuan korban. Meski kali ini kekuatannya lebih kecil, dampaknya tetap serius—terutama bagi infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih dari guncangan sebelumnya. BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan berkelanjutan, terutama di wilayah rawan gempa seperti Sulawesi Tengah, di mana aktivitas sesar aktif masih terus berlangsung.















