Sumbawanews.com,- Amerika Serikat dan Iran resmi mengakhiri ketegangan di Selat Hormuz dengan kesepakatan damai yang menjamin pembukaan penuh jalur maritim strategis itu pada 19 Juni 2026. Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa perairan krusial yang menjadi urat nadi perdagangan energi global itu akan kembali beroperasi tanpa hambatan, menyusul penandatanganan kesepakatan oleh kedua belah pihak di Swiss.
Dalam pernyataannya di Washington D.C., Trump mengatakan, “Kapal-kapal sudah mulai bergerak—banyak yang membawa minyak—keluar dari Selat Hormuz.” Laporan dari media Iran membenarkan bahwa tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo telah melintasi perairan yang selama berbulan-bulan ditutup oleh Teheran, sementara Washington memberlakukan pembatasan ketat terhadap pengiriman barang ke dan dari pelabuhan Iran.
Kesepakatan ini ditandatangani secara elektronik oleh Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, upacara resmi penandatanganan akan berlangsung pada 19 Juni di Jenewa, sebagai simbol komitmen bersama untuk memulihkan stabilitas di Timur Tengah.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut langkah ini sebagai “akhir langsung” dari konflik yang memicu kekhawatiran global terhadap pasokan minyak. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyambutnya sebagai pencapaian sejarah bagi kawasan, meski Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengingatkan bahwa Teheran tetap waspada terhadap potensi pelanggaran komitmen, mengingat pengalaman masa lalu dengan perjanjian internasional yang gagal.
Reaksi pasar pun cepat menyusul. Harga minyak mentah global anjlok hampir 5 persen dalam sehari, sementara indeks saham utama di New York, London, dan Tokyo menguat. Industri logistik dan energi menyambut gembira kepastian keamanan rute pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia—jalur yang menampung sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Kesepakatan ini juga membuka jalan bagi pembahasan lebih lanjut mengenai perjanjian permanen dalam dua bulan mendatang, termasuk isu-isu terkait program nuklir Iran dan sanksi ekonomi yang masih berlaku. Sementara itu, Israel menanggapi dengan kehati-hatian. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa meski AS dan Iran berdamai, Israel tetap akan mempertahankan kehadirannya di Lebanon demi keamanan nasionalnya.
Di Jakarta, Kementerian Luar Negeri RI menyambut baik perkembangan ini, menilai bahwa stabilitas di Selat Hormuz adalah kunci bagi keamanan energi dan perdagangan maritim Asia Tenggara. “Kami mengapresiasi upaya diplomasi yang menghindarkan krisis lebih besar,” ujar juru bicara Kemlu.
Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, dunia bukan hanya menyaksikan berakhirnya sebuah krisis geopolitik—tapi juga dimulainya babak baru dalam upaya menyeimbangkan kekuatan di kawasan yang selama ini menjadi pusat ketegangan global.















