Home Berita Nasional Gempa M6,7 Hancurkan Palu, BMKG: Sesar Aktif Jadi Penyebab

Gempa M6,7 Hancurkan Palu, BMKG: Sesar Aktif Jadi Penyebab

Sumbawanews.com,- Palu, Sulawesi Tengah—Gempa bumi berkekuatan 6,7 skala Richter mengguncang Palu pada Selasa, 16 Juni 2026, pukul 13.44 WIB, meruntuhkan sejumlah bangunan dan memicu kepanikan di kalangan warga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa ini berasal dari aktivitas sesar aktif, bukan akibat subduksi lempeng, dengan mekanisme pergerakan sesar turun (normal fault) yang terjadi di kedalaman dangkal—hanya 10 kilometer di bawah permukaan.

Episenter gempa terdeteksi di koordinat 1,03° LS dan 120,24° BT, atau sekitar 42 kilometer tenggara pusat kota Palu. Menurut analisis BMKG, pergerakan sesar ini merupakan bagian dari sistem fault aktif yang membentang di wilayah Sulawesi, kawasan yang rentan terhadap aktivitas tektonik akibat pertemuan lempeng Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia.

Getaran kuat dirasakan hingga skala MMI VI–VII di Palu, di mana banyak bangunan berstruktur tidak tahan gempa mengalami kerusakan berat. Di Sigi, intensitas guncangan mencapai V–VI, sementara di Polewali Mandar, Mamasa, dan Mamuju, getaran terasa hingga skala III. Wilayah seperti Gorontalo, Luwu Utara, dan Pasangkayu merasakan guncangan ringan hingga sedang, dengan skala II–III.

BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi memicu tsunami, mengingat karakteristik pergerakan sesar turun yang tidak menimbulkan perubahan signifikan pada permukaan laut. Namun, dampaknya tetap mematikan: warga berhamburan ke jalan-jalan, mobil terguling, dinding sekolah runtuh, dan listrik padam di sejumlah titik.

Kepala BMKG, dalam konferensi pers darurat, mengingatkan bahwa Palu berada di jalur sesar Palu-Koro—sistem patahan yang pernah menjadi penyebab bencana dahsyat pada 2018 silam. “Ini bukan kejadian kebetulan. Ini adalah peringatan alam bahwa kita belum cukup siap,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah membentuk posko tanggap darurat dan mengerahkan tim SAR gabungan dari TNI, Polri, dan relawan. Sementara itu, Kementerian PUPR mulai mengevaluasi kerusakan infrastruktur vital, termasuk jembatan dan jalan akses ke daerah terpencil.

Warga yang tinggal di sepanjang sesar aktif diminta untuk tetap waspada terhadap gempa susulan. BMKG memperkirakan kemungkinan terjadinya aftershock dalam 72 jam ke depan, meski dengan kekuatan lebih kecil.

Bencana ini kembali mengingatkan Indonesia—negara dengan 127 sesar aktif—akan pentingnya penerapan standar bangunan tahan gempa, pemetaan risiko berkelanjutan, dan edukasi masyarakat. Di tengah keheningan malam yang terganggu oleh tangisan dan suara alat berat, Palu kembali menjadi simbol ketangguhan sekaligus kerentanan bangsa di atas patahan bumi.

Previous articleGempa M6,7 Rusak Bangunan Kampus Tadulako, Tidak Ada Korban Jiwa
Next articleTel Aviv Geram, AS Dianggap Menyerah pada Iran
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.