Sumbawanews.com,- Satu tahun sejak pengumuman resminya pada 16 Juni 2025, T1 Phone milik Trump Mobile belum juga sampai ke tangan para pre-order. Meski dijanjikan sebagai ponsel “dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat” dengan harga $499—seperempat dari biaya ponsel buatan lokal lain seperti Purism Liberty Phone yang harganya $1.999—hingga kini, tidak ada satu unit pun yang dikirimkan.
Ponsel yang dijual dengan uang muka $100 ini awalnya disajikan dengan gambar-gambar yang jelas-jelas bukan hasil fotografi produk asli, spesifikasi yang saling bertentangan, dan jadwal rilis yang tak pernah jelas. Tidak hanya itu, klaim bahwa ponsel ini akan diproduksi di AS pun langsung menuai skeptisisme. Industri ponsel global hampir seluruhnya bergantung pada rantai pasok dan tenaga kerja terampil yang terkonsentrasi di Asia—tempat di mana biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas. Di AS, hanya satu perusahaan kecil yang mampu memproduksi ponsel secara mandiri, dan itu pun dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Selama setahun, jurnalis dan pengamat teknologi terus mengikuti perkembangannya. Setiap minggu, pertanyaan yang sama diajukan: Apa bentuk sebenarnya dari ponsel ini? Kapan akan dikirim? Apakah benar-benar dibuat di Amerika? Jawabannya selalu samar. Beberapa laporan kemudian mengungkap bahwa perangkat yang dikirimkan kepada beberapa pre-orderer ternyata adalah HTC U24 Pro yang dimodifikasi secara visual—dengan logo Trump dan sedikit perubahan tampilan, tanpa peningkatan teknis signifikan.
iFixit, lembaga yang terkenal melakukan penguraian perangkat elektronik, mengonfirmasi temuan ini: T1 Phone bukanlah produk inovatif yang dibangun dari nol, melainkan ponsel impor yang di-label ulang. Bahkan, proses “produksi Amerika” yang dijanjikan ternyata hanya berupa perakitan akhir dan pelabelan di fasilitas yang tidak jelas lokasinya—bukan manufaktur sejati.
Trump Mobile sendiri tidak pernah memberikan penjelasan resmi tentang keterlambatan ini. Tidak ada pengumuman tanggal rilis baru, tidak ada pembaruan teknis, dan tidak ada transparansi soal asal-usul komponen. Yang ada hanyalah kampanye pemasaran yang terus mengandalkan narasi politik dan loyalitas penggemar, bukan keandalan produk.
Kini, satu tahun setelah peluncurannya, T1 Phone menjadi simbol dari sebuah tren yang lebih besar: bagaimana narasi politik bisa dimanfaatkan untuk menjual produk teknologi yang tidak pernah benar-benar ada. Di tengah dunia yang semakin mengandalkan inovasi nyata, ponsel Trump tetap menjadi sebuah ilusi—dengan harga $499, uang muka $100, dan janji yang tak pernah ditepati.

















