Sumbawanews.com,- Bocoran dokumen kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat yang beredar melalui Kantor Berita Mehr mengungkap 14 poin utama yang menjadi dasar upaya perdamaian setelah 107 hari ketegangan bersenjata. Meski belum dikonfirmasi resmi oleh kedua pemerintah, isi draf tersebut menjanjikan transformasi geopolitik besar di Timur Tengah—dengan fokus pada penghentian permusuhan, pemulihan ekonomi, dan stabilitas jalur maritim strategis.
Pertama dan paling mendasar, kedua negara sepakat menghentikan seluruh operasi militer secara permanen, termasuk di Lebanon, yang selama ini menjadi medan konflik tak langsung. Washington juga berkomitmen menghormati kedaulatan Iran dan berjanji tidak lagi mencampuri urusan dalam negeri Republik Islam tersebut. Sebagai simbol konkret, blokade maritim yang selama ini membatasi akses Iran ke laut dibatalkan dalam waktu 30 hari, seiring dengan penarikan pasukan AS dari wilayah-wilayah yang mengelilingi Iran.
Salah satu poin paling dinantikan dunia adalah pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair global. Dengan mekanisme pengawasan bersama, jalur ini akan kembali beroperasi penuh dalam waktu sebulan, memicu reli pasar energi dan menurunkan harga minyak dunia.
Di bidang ekonomi, sanksi terhadap sektor minyak, petrokimia, dan produk turunannya ditangguhkan, memungkinkan Iran menjual energinya kembali ke pasar internasional. Teheran juga akan mendapatkan akses penuh terhadap pendapatan energinya yang selama ini dibekukan. Lebih dari itu, Amerika Serikat dan sekutunya wajib menyediakan dana rekonstruksi minimal USD 300 miliar (Rp 4.900 triliun) untuk memulihkan infrastruktur Iran yang rusak akibat konflik dan sanksi.
Dalam upaya membangun kepercayaan, AS akan melepaskan USD 24 miliar aset Iran yang dibekukan sejak lama—setengahnya harus dicairkan sebelum negosiasi final dimulai. Sementara itu, Iran secara tegas menegaskan kembali komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menolak keras untuk mengembangkan senjata nuklir.
Negosiasi lanjutan akan berlangsung selama 60 hari, dengan fokus hanya pada tiga isu: program pengayaan uranium, pencabutan sanksi menyeluruh, dan rekonstruksi ekonomi. Isu rudal balistik Iran dan dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan secara permanen dikeluarkan dari agenda, menandai kompromi strategis dari kedua belah pihak.
Untuk memastikan kepatuhan, sebuah mekanisme pengawasan independen akan dibentuk, dan kesepakatan akhir akan diperkuat melalui resolusi Dewan Keamanan PBB. Jika seluruh poin ini dijalankan, kesepakatan ini bukan sekadar gencatan senjata—melainkan titik balik dalam hubungan AS-Iran yang selama puluhan tahun dipenuhi kecurigaan dan permusuhan.
Dengan Selat Hormuz yang kembali terbuka dan pasar energi yang stabil, dunia berpeluang memasuki babak baru: dari konflik yang mengancam ketahanan global, menuju kerja sama yang bisa mengubah peta kekuatan Timur Tengah selama generasi mendatang.

















