Sumbawanews.com,- Blitar — Di tengah heningnya makam Bung Karno di Blitar, Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah mengingatkan: nilai-nilai yang ditanamkan oleh sang proklamator tak pernah usang. Ia menegaskan, Trisakti — berdaulat di politik, berdikari di ekonomi, berkepribadian di budaya — bukan sekadar semboyan lama, tapi panduan hidup bangsa yang kini kembali diwujudkan melalui kebijakan ketahanan pangan nasional.
“Nilai-nilai Bung Karno, khususnya Trisakti, bukan hanya jadi bacaan harian kami di PDIP. Itu sedang kita hidupkan,” ujar Said Abdullah, yang juga menjabat Ketua Badan Anggaran DPR RI, usai mengikuti ziarah bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan sejumlah tokoh partai, Minggu (14/6/2026).
Ia mencontohkan, upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan perwujudan mimpi besar Bung Karno: Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada impor, dan mampu menjamin kedaulatan rakyatnya melalui pangan.
“Swasembada pangan adalah bagian tak terpisahkan dari Trisakti. Ini bukan soal politik, tapi soal martabat bangsa,” tegasnya.
Ziarah yang digelar dalam rangkaian Haul dan Bulan Bung Karno itu dihadiri oleh sejumlah kader senior PDIP, termasuk Djarot Saiful Hidayat, Hasto Kristiyanto, Prananda Prabowo, serta jajaran pemimpin daerah dari Blitar seperti Wali Kota Syauqul Muhibbin, Wakil Wali Kota Elim Tyu Samba, dan Bupati Rijanto.
Setelah menabur bunga dan mendoakan arwah Bung Karno, Said menyampaikan pesan khusus dari Megawati: bahwa harapan terdalam sang putri proklamator adalah Indonesia yang mandiri, sejahtera, dan tak pernah kehilangan jati diri.
“Bangsa ini sejahtera, bangsa ini berdikari — itu doa yang disampaikan Ibu Megawati,” kata Said, menirukan ucapan Ketua Umum PDIP.
Konsep Trisakti yang diangkat Said bukanlah interpretasi baru. Sebagaimana dicatat dalam buku *Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno* karya Asvi Warman Adam, Trisakti lahir dari visi Bung Karno untuk membebaskan Indonesia dari belenggu kolonialisme dalam semua aspek: politik, ekonomi, dan budaya. Di era globalisasi dan ketidakpastian geopolitik, kata Said, prinsip ini justru semakin mendesak untuk ditegakkan.
“Ketika dunia berlomba-lomba menguasai sumber daya, kita harus kembali ke akar: jangan jadi penonton, tapi tuan rumah di negeri sendiri.”
Di sekitar makam, bendera merah putih berkibar pelan ditiup angin. Di kejauhan, pembangunan Istana Gebang yang akan diresmikan Megawati sebagai pusat edukasi nilai-nilai Bung Karno, menjadi simbol nyata bahwa warisan sang proklamator tak hanya diingat — tapi dihidupkan.

















