Sumbawanews.com,- Dengan debut perdana SpaceX di bursa saham, Elon Musk resmi menjadi orang pertama dalam sejarah yang mencapai kekayaan lebih dari 1 triliun dolar AS. Nilai kekayaannya melonjak setelah harga saham perusahaan antariksa itu ditetapkan di level 135 dolar AS per lembar, membuat kepemilikan sahamnya di SpaceX bernilai sekitar 860 miliar dolar AS. Ditambah dengan sahamnya di Tesla yang juga menguat, total kekayaan bersih Musk secara resmi melewati ambang triliunan—sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya menjadi mimpi di dunia finansial.
Pencapaian ini terjadi di tengah gelombang kontroversi yang terus menghantui sosoknya. Tahun lalu, Musk menghabiskan sekitar 300 juta dolar AS untuk mendanai kampanye presiden Donald Trump dan kemudian bergabung dalam pemerintahan AS sebagai pemimpin “Department of Government Efficiency”—inisiatif yang banyak dikritik karena gagal memangkas belanja negara, malah berujung pada pembatalan kontrak tanpa analisis mendalam. Meski demikian, pengaruhnya di sektor teknologi dan ruang angkasa tak terbantahkan.
Di balik lonjakan kekayaan itu, ada struktur keuangan yang luar biasa kompleks. Musk masih memiliki hak suara lebih dari 80 persen di SpaceX, memegang kendali penuh atas dewan direksi, dan telah merancang tata kelola perusahaan yang hampir tak bisa digugat secara hukum. Bahkan, meskipun 1 miliar saham SpaceX-nya terikat oleh syarat tak bisa dijual kecuali perusahaan berhasil membangun koloni manusia di Mars, ia tetap bisa memanfaatkannya sebagai jaminan pinjaman—memungkinkan akses likuiditas miliaran dolar tanpa harus membayar pajak atas keuntungan kertasnya.
Belum selesai di situ. Pada 2022, pemegang saham Tesla menyetujui paket kompensasi yang bisa bernilai hingga 1 triliun dolar AS jika Musk berhasil memenuhi serangkaian target pertumbuhan perusahaan. Jika semua target tercapai, kekayaannya bisa melampaui angka yang kini sudah mengejutkan dunia.
SpaceX, yang kini menjadi perusahaan publik, tetap menjadi mesin utama ambisi Musk: menjadikan manusia sebagai spesies multiplanetary. Dengan valuasi yang terus menguat, perusahaan ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologi, tapi juga alat politik dan ekonomi yang tak terduga. Di tengah tekanan global untuk mengejar kemajuan di luar angkasa, Musk kini bukan sekadar pengusaha—ia adalah tokoh yang mengubah batas antara mimpi dan kenyataan, sekaligus menjadi pusat kontroversi terbesar abad ini.

















