Sumbawanews.com,- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memastikan gangguan yang melanda Instagram, Facebook, dan WhatsApp pada Jumat, 12 Juni 2026, bukanlah serangan siber atau upaya pemblokiran terkait aksi demo mahasiswa di sejumlah kota. Gangguan itu adalah akibat dari masalah teknis internal di jaringan Meta Platforms yang berdampak secara global.
Pada hari yang sama, ribuan mahasiswa berunjuk rasa di Bundaran HI dan kota-kota besar lainnya, memicu spekulasi di media sosial bahwa platform-platform tersebut sengaja dimatikan untuk menghambat penyebaran informasi. Namun, Komdigi menegaskan, kegagalan akses yang dialami pengguna di Indonesia juga dirasakan oleh jutaan pengguna di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Amerika Latin.
Melalui akun resmi Instagramnya, @komdigi, kementerian itu merilis pernyataan resmi dari Meta bahwa “sebagian pengguna sedang mengalami kendala dalam mengakses layanan kami, dan tim teknis sedang menangani masalah ini.” Pernyataan itu dikonfirmasi oleh juru bicara Meta Global, Andy Stone, yang menyebut gangguan bersumber dari sistem infrastruktur internal, bukan intervensi eksternal.
Tidak ada bukti bahwa pemerintah atau pihak mana pun mematikan layanan. Bahkan, pemantauan jaringan global seperti DownDetector menunjukkan lonjakan laporan gangguan serentak di lebih dari 40 negara, dengan puncaknya terjadi pada pukul 14.00–16.00 WIB—waktu yang bersamaan dengan aksi demo di Jakarta.
Komdigi menambahkan, meski kejadian ini terjadi di tengah gelombang protes, tidak ada hubungan sebab-akibat antara aktivitas sipil dengan kegagalan teknis Meta. “Kami memahami kekhawatiran masyarakat, tetapi data teknis menunjukkan ini adalah insiden sistem, bukan kebijakan,” demikian pernyataan resmi kementerian.
Dalam beberapa jam, layanan perlahan pulih. Meta menyatakan pemulihan telah selesai sepenuhnya sebelum tengah malam. Namun, insiden ini kembali mengingatkan betapa rentannya komunikasi publik terhadap ketergantungan pada platform swasta yang terpusat—terutama saat momen krusial seperti demonstrasi besar.
Pengguna diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya pada hoaks yang memanfaatkan momen krisis teknis. Komdigi pun mengimbau agar informasi resmi selalu dikonfirmasi melalui saluran resmi pemerintah dan perusahaan teknologi.

















