Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mencapai kesepakatan damai berpotensi selesai dalam waktu 24 jam ke depan. Pernyataan itu disampaikan Sharif melalui akun resminya di platform X, menandai titik balik krusial dalam upaya diplomatik yang telah berlangsung berbulan-bulan di tengah ketegangan regional yang memuncak.
Menurut Sharif, setelah proses finalisasi selesai, kedua belah pihak berencana melakukan penandatanganan elektronik perjanjian perdamaian, diikuti oleh pembahasan teknis mendalam pada pekan berikutnya. Ia menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar formalitas hukum, melainkan fondasi bagi stabilitas jangka panjang di Timur Tengah—kawasan yang selama bertahun-tahun dilanda konflik, sanksi, dan serangan balas dendam.
“Kami yakin bahwa kesepakatan bersejarah ini akan membentuk dasar bagi perdamaian abadi,” ujar Sharif, menambahkan apresiasi atas komitmen serius yang ditunjukkan oleh Washington dan Teheran dalam perundingan intensif di Jenewa. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada negara-negara kawasan yang telah mendukung upaya mediasi, tanpa menyebut secara spesifik, namun mengisyaratkan peran penting diplomasi regional dalam membuka jalan bagi keberhasilan ini.
Kesepakatan yang sedang dirumuskan diyakini mencakup pengendalian program nuklir Iran, pencabutan sebagian sanksi ekonomi AS, serta mekanisme verifikasi independen. Langkah ini menjadi respons terhadap eskalasi terakhir, termasuk serangan balasan Iran terhadap target militer AS di Yordania dan penutupan sementara Selat Hormuz, yang sempat mengancam arus perdagangan minyak global.
Dengan latar belakang konflik yang telah berlangsung lebih dari empat dekade, keberhasilan kesepakatan ini akan menjadi momen paling signifikan dalam hubungan AS-Iran sejak kesepakatan nuklir 2015. Bagi Pakistan—negara yang berbatasan langsung dengan Iran dan memiliki hubungan strategis dengan AS—keberhasilan ini bukan hanya soal keamanan regional, tetapi juga peluang untuk memperkuat perannya sebagai jembatan diplomatik di antara kekuatan besar.
Sharif menegaskan, “Ini bukan hanya tentang menghentikan perang. Ini tentang membangun masa depan yang tidak lagi dikuasai oleh kecurigaan, melainkan oleh kepercayaan.”
Jika perjanjian benar-benar ditandatangani dalam waktu dekat, dunia akan menyaksikan perubahan geopolitik yang mungkin mengubah peta kekuatan di Timur Tengah—dan membuka babak baru dalam hubungan internasional pasca-perang dingin.

















