Sumbawanews.com,- Pemandangan tak biasa menyambut warga Jakarta malam ini. Bundaran Hotel Indonesia, yang biasanya bersinar terang dengan lampu papan iklan dan sorotan Monumen Selamat Datang, tiba-tiba tenggelam dalam kegelapan—sejenak, namun bermakna.
Pemadaman serentak dimulai pukul 20.30 WIB, sebagaimana diatur oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup. Selama satu jam, hampir semua sumber cahaya buatan di sekitar kawasan itu dimatikan: lampu jalan, neon sign, bahkan lampu hias di patung Arjuna Wiwaha dan Patung Pemuda ikut padam. Hanya cahaya dari kendaraan yang melintas dan rembulan yang menjadi pencahayaan alami di tengah keheningan.
Di tengah kegelapan, sejumlah pengunjung terlihat berdiri diam, menatap langit, atau mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen langka itu—meski hasil foto jauh dari sempurna. “Biasanya terang banget, sampai mata silau. Sekarang… rasanya seperti kembali ke masa lalu,” ujar Pika, mahasiswa berusia 23 tahun yang datang bersama temannya, Heni.
Purwanto, seorang pengunjung pertama kali, mengaku sempat bingung. “Saya kira listrik mati karena gangguan. Ternyata ini program. Aku dukung, sih. Satu jam nggak apa-apa, asal jangan sering-sering,” katanya sambil tertawa.
Tak hanya Bundaran HI, sejumlah ikon ibu kota lainnya juga ikut dalam aksi simbolis ini: Monas, Gedung Balai Kota, Patung Jenderal Sudirman, hingga ruas jalan protokol seperti Jalan Sudirman dan MH Thamrin. Pemadaman tidak berlaku untuk fasilitas kesehatan, pusat evakuasi, atau sistem keamanan—semua tetap berjalan normal.
Menurut data Pemprov DKI, aksi ini tidak hanya bernilai simbolis. Dalam satu jam pemadaman, pemerintah memperkirakan penghematan listrik mencapai lebih dari Rp140 juta. Angka itu setara dengan kebutuhan listrik 1.200 rumah tangga selama sehari.
“Ini bukan sekadar mati lampu. Ini pesan: energi bukan hal yang bisa dianggap sepele,” ujar seorang petugas dari Dinas Lingkungan Hidup DKI yang berjaga di lokasi.
Warga yang terlibat dalam aksi ini menyampaikan dukungan, meski ada keluhan kecil—terutama dari fotografer amatir dan pedagang kaki lima yang bergantung pada cahaya lampu. Tapi secara keseluruhan, responsnya positif. “Kalau ini bisa jadi kebiasaan, kenapa tidak?” kata Heni. “Kita bisa hidup dengan lebih sedikit cahaya, tapi lebih banyak kesadaran.”
Lalu lintas di sekitar Bundaran HI tetap lancar. Pengendara hanya mengandalkan lampu kendaraan masing-masing, tanpa kekacauan atau kemacetan. Tidak ada kepanikan. Hanya keheningan yang terasa—dan di dalamnya, sebuah pesan yang jelas: untuk menyelamatkan bumi, kadang kita harus belajar berhenti sejenak.
Pemadaman ini adalah yang ketiga kalinya dilakukan DKI Jakarta dalam setahun, menyusul aksi serupa pada Hari Bumi dan Waisak. Rencananya, program ini akan terus diperluas, dengan target mencapai 12 kali pemadaman simbolis per tahun.
Di tengah deru mobil dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, malam ini, Jakarta memilih diam—sejenak, untuk mendengarkan bumi.

















