Sumbawanews.com,- Amerika Serikat meraih kemenangan telak 4-1 atas Paraguay dalam laga pembuka Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, mencatatkan sejarah sebagai tim tuan rumah pertama yang mencetak empat gol dalam satu pertandingan turnamen dunia. Kemenangan ini bukan hanya membangkitkan harapan tim nasional “The Stars and Stripes” untuk melampaui pencapaian 2002, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan sepak bola di negara yang lebih dikenal dengan basket dan American football.
Namun, di tengah sorak-sorai penonton dan gemerlapnya konser pembukaan yang dimeriahkan Katy Perry hingga Tyla, ada satu sosok yang absen—Presiden Donald Trump. Tidak seperti tradisi yang berlaku sejak dekade lalu, di mana pemimpin negara tuan rumah selalu hadir di stadion untuk menyaksikan laga pertama tim nasionalnya, Trump memilih tidak hadir. Alasannya resmi: jadwal yang padat. Tapi di balik itu, banyak yang melihat keputusan itu sebagai upaya menghindari kemungkinan dicemooh oleh kerumunan yang mayoritas mendukung Partai Demokrat.
Los Angeles, kota yang menjadi tuan rumah laga itu, dan negara bagian California secara historis adalah benteng politik liberal—wilayah yang sering menjadi panggung protes terhadap kebijakan Trump, mulai dari imigrasi hingga isu Palestina. Dua hari sebelumnya, Trump bahkan sempat menjadi sasaran teriakan kecaman di Madison Square Garden, New York, saat menonton pertandingan NBA. Kehadirannya di stadion sepak bola, di tengah polarisasi sosial yang semakin dalam, tampak seperti tantangan politik yang terlalu berisiko.
FIFA, organisasi yang selama puluhan tahun mempromosikan Piala Dunia sebagai ajang penyatuan dunia melalui bola, kini dihadapkan pada ironi yang tak terbantahkan: sepak bola memang mampu menyatukan ribuan orang dari berbagai latar belakang di dalam stadion, tapi di luar lapangan, politik tetap membelah. Di satu sisi, pemain multietnis AS—dari keturunan Meksiko, Afrika, hingga Eropa—berlari dengan semangat persatuan. Di sisi lain, sang presiden memilih untuk tidak menyaksikan mereka, seolah-olah kemenangan tim nasional bukanlah kemenangan seluruh rakyatnya.
Kehilangan simbolisme kehadiran pemimpin bukan sekadar soal protokoler. Ini adalah kehilangan pesan moral: bahwa olahraga, dalam idealismenya, seharusnya lebih besar dari partai, lebih tinggi dari perbedaan ideologi. Ketika Trump memilih untuk tidak hadir, ia bukan hanya absen di stadion—ia absen dari narasi besar yang ingin dibangun oleh Piala Dunia: bahwa di atas rumput hijau, semua manusia adalah sama.
Di tengah sorotan global, Piala Dunia 2026 tetap menjadi pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah. Tapi di balik kegembiraan, bayangan retaknya idealisme itu semakin jelas. Sepak bola bisa menyatukan dunia—tapi hanya jika para pemimpinnya mau hadir, bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk ikut merayakan.

















