Sumbawanews.com,- Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Solo dan Semarang turun ke jalan dalam aksi solidaritas yang berlangsung serentak pada hari ini. Aksi yang dimulai sejak pagi hari itu menuntut penundaan kenaikan harga BBM, penghentian privatisasi BUMN, serta reformasi total sistem pendidikan tinggi yang dinilai semakin tidak adil.
Di Solo, massa berkumpul di depan Gedung DPRD Jawa Tengah sebelum bergerak menuju kantor Gubernur. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Pendidikan Bukan Komoditas” dan “BBM Naik, Rakyat Sengsara”. Beberapa kelompok mahasiswa membawakan puisi perlawanan dan lagu-lagu perjuangan, menciptakan suasana yang menggugah emosi sekaligus menguatkan solidaritas.
Sementara itu di Semarang, aksi berpusat di Alun-Alun Utara, dengan peserta yang berasal dari Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, dan sejumlah perguruan tinggi swasta. Para demonstran menuntut pemerintah untuk segera membuka dialog terbuka, bukan hanya menanggapi aksi dengan kekerasan atau penangkapan. “Kami bukan anarkis, kami adalah generasi yang ingin masa depan yang adil,” ujar Rizky, koordinator aksi dari Fakultas Hukum Undip, sambil memegang tanda tangan petisi yang telah ditandatangani lebih dari 15.000 mahasiswa.
Polisi mengamankan jalannya aksi dengan strategi pengawasan ketat namun tidak melakukan pembubaran paksa. Petugas hanya membatasi rute pergerakan massa demi menjaga keamanan publik. Di kedua kota, aksi berlangsung damai hingga sore hari, dengan sejumlah warga lokal memberikan air minum dan makanan ringan kepada para mahasiswa.
Kedua aksi ini menjadi bagian dari gelombang protes nasional yang telah memicu demonstrasi di lebih dari 20 kota sejak awal pekan ini. Pemerintah hingga kini belum memberikan respons resmi, meskipun sejumlah menteri dikabari tengah menggelar rapat darurat untuk mengevaluasi dampak sosial dari kebijakan ekonomi terbaru.

















