Sumbawanews.com,- Ratusan mahasiswa dari sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (12/6), menuntut kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat. Aksi yang berlangsung hingga sore hari ini berpusat di kawasan Dukuh Atas, setelah rencana berkumpul di Bundaran HI diblokir aparat keamanan.
Meski dipersulit aksesnya ke pusat ibu kota, massa tetap bertahan. Dalam long march sejauh enam kilometer, mereka menegaskan bahwa aspirasi mereka bukan sekadar soal lokasi, tapi substansi: keadilan ekonomi dan akuntabilitas kepemimpinan. Polisi yang awalnya berdiri tegak di depan barikade bahkan sempat mengatakan, “Kalau memaksakan kehendak, silakan tabrak kami.” Namun, pernyataan itu justru memperkuat tekad mahasiswa untuk menyampaikan tuntutan secara damai namun tegas.
Kelima tuntutan utama yang diusung mahasiswa mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap arah kebijakan nasional. Pertama, mereka menyerukan penghentian pemborosan anggaran negara yang dinilai tidak transparan dan tidak berpihak pada kebutuhan rakyat. Kedua, penurunan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) yang terus melambung, membebani daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Tuntutan ketiga mengecam program Mega Budgeting Governance (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, yang dianggap sebagai bentuk intervensi berlebihan terhadap struktur ekonomi lokal. Keempat, mahasiswa menolak militerisasi di ranah sipil, menekankan bahwa keamanan publik seharusnya menjadi tanggung jawab polisi, bukan aparat militer.
Tuntutan terakhir menjadi yang paling menohok: mereka meminta Presiden Prabowo Subianto berhenti mengelak dan secara terbuka mengakui kesalahan kebijakan pemerintah yang memicu krisis ekonomi dan sosial. “Bundaran HI bukan cuma simbol geografis, tapi jantungnya demokrasi kita,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa. “Kalau pemerintah tak mau mendengar di sana, kami akan datang ke mana pun Anda berada.”
Aksi ini menjadi bagian dari gelombang protes yang kian meluas di berbagai kota, dari Solo hingga Surabaya, menunjukkan bahwa suara generasi muda tak lagi bisa diabaikan. Dukungan dari tokoh publik seperti Zaskia Adya Mecca, yang membawa bantuan medis dan logistik ke lokasi aksi, semakin memperkuat legitimasi sosial dari gerakan ini.
Hingga pukul 16.30 WIB, massa tetap bertahan di lokasi, menunggu respons resmi dari pemerintah. Tidak ada kekerasan, hanya keteguhan. Dan di tengah hiruk-pikuk kota, satu pesan jelas terdengar: rakyat tidak lagi puas dengan janji. Mereka menuntut tindakan.

















