Sumbawanews.com,- Mexico City berubah menjadi panggung raksasa kecintaan pada sepak bola menjelang pembukaan Piala Dunia 2026. Di setiap sudut kota, mural warna-warni, baliho raksasa, dan poster tim nasional menghiasi dinding-dinding jalan, sementara ribuan warga memadati kawasan Stadion Azteca, mengenakan jersey hijau kebanggaan El Tri dan meneriakkan yel-yel “¡Viva México!” dengan semangat tak terbendung.
Euforia tak hanya milik pendukung Meksiko atau Afrika Selatan, tim yang akan bertanding di laga pembuka pada Kamis (11/6) waktu setempat. Pendukung dari negara-negara yang tak lolos kualifikasi—termasuk Peru, Venezuela, Guatemala, bahkan Indonesia—berbondong-bondong datang ke ibu kota Meksiko hanya untuk merasakan atmosfer pesta sepak bola terbesar di dunia. Di jalanan protokol, pedagang kaki lima menjajakan aksesori unik: topi sombrero berlogo FIFA, bendera kebanggaan negara asal, hingga kostum tradisional yang dikombinasikan dengan atribut tim favorit.
“Ini bukan sekadar turnamen, ini perayaan budaya,” ujar Daniel, warga Guatemala, sambil memegang bendera negaranya yang dikaitkan dengan syal tim Meksiko. “Kami tidak bermain, tapi kami hadir sebagai saksi sejarah.”
Di antara kerumunan, Wachidal Mustofa Dimyani, seorang pendukung timnas Indonesia dari Tulungagung, mengaku telah menabung selama setahun demi bisa menyaksikan Piala Dunia untuk ketiga kalinya di Meksiko—setelah edisi 1970 dan 1986. “Sepak bola di sini bukan cuma olahraga. Ini napas kehidupan. Dengan akar budaya yang dalam, Meksiko membuat setiap detik turnamen ini terasa sakral.”
Pembukaan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Stadion Azteca, dengan kapasitas rekor lebih dari 87.000 penonton, bukan hanya menandai dimulainya 48 tim dari tiga negara tuan rumah—Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada—but juga menjadi simbol persatuan global. Bahkan di tengah gejolak politik dan ekonomi, sepak bola menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan orang-orang dari benua berbeda, dengan satu tujuan: menyaksikan keajaiban di atas rumput hijau.
Sehari sebelum laga pembuka, udara di Mexico City sudah dipenuhi irama drum, lagu-lagu tradisional, dan suara sorak yang menggema sepanjang malam. Piala Dunia belum dimulai, tapi semangatnya sudah hidup—dan tak akan pernah padam.

















